Posts Tagged ‘mataram’

kontinuitas pasar

Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI MasehiPasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI Masehi by Titi Surti Nastiti

My rating: 3 of 5 stars

buku ini tidak hendak membuktikan adanya kontinuitas antara pasar di jawa tengah abad ke-8 dengan pasar masa kini. tidak pula hendak mendapatkan “hal-hal yang tetap” dari pembandingan gagasan yang disebut pasar di kedua jarak waktu sejauh 13 abad itu.
tapi, memang dari mulanya buku ini sudah punya anggapan bahwa ada kontinuitas itu tadi. bahwa pasar sebagaimana disebut dengan istilah “pekan” oleh prasasti-prasasti itu masih berlangsung pada masa kini secara esensial, dengan variasi-variasinya.

jadi dengan demikian, buku ini hendak membuat cerita tentang fenomen pasar -di masa lalu mau pun di masa kini- di tempat-tempat yang secara toponim dianggap sama: apa saja komoditasnya, siapa saja pelakunya, di mana tempatnya, bagaimana bentuk fisik tempat itu….
dipilihlah dua desa yang secara toponim adalah dua desa yang disebut oleh prasasti-prasasti: satu di temanggung jawa tengah dan satunya di dekat malang jawa timur. mataram kuna memang pernah berkuasa di jawa tengah dan kemudian pindah ke jawa timur untuk mendapatkan akses perdagangan interinsular.

menghadirkan kembali secara lengkap peristiwa pasar masa lalu dengan mengandalkan prasasti dan relief-relief candi, sudah tentu pekerjaan yang luar biasa susahnya. karena kedua sumber resmi itu dibuat oleh pihak elite dan untuk kepentingan lain yang tidak untuk memotret kejadian pasar.
penulis menggunakan model “analogi” sebagaimana diterangkan oleh robert archer.

bagi saya, saya paham kesulitan rekonstruksi masa lalu pasar. karena itu, membaca kisah tentang pasar dengan cara mendampingkan keterangan masa lalu dengan kejadian masa kini, terus menerus perasaan ini disergap oleh rasa ragu. tapi saya senang didongengi dengan macam-macam informasi seputar pasar masa lalu, sebagaimana disajikan oleh buku ini.

saya memang selalu ragu dengan ide tentang kontinuitas.

tapi asyik aja dah baca kisah-kisah gini!

ngonthel bersama van goens

Javaense Reyse: De bezoeken van een VOC-gezant aan het hof von Mataram, 1648-1654Javaense Reyse: De bezoeken van een VOC-gezant aan het hof von Mataram, 1648-1654 by Rijklof van Goens

My rating: 4 of 5 stars

perjalanan bersepeda onthel beberapa hari ini, mengigatkan aku pada perjalanan dinas rijklof van goens yang dari batavia, lewat semarang, sampai ke sini, plered. tempatku juga mengakhiri perjalanan dari muter-muter kawasan perdesaan di pinggiran yogyakarta ini.
catatan utusan VOC ini, menggambarkan bahwa plered adalah ibukota mataram. bukan kota pinggiran, meski tempatnya bergeser beberapa kilo dari ibukota mataram sebelumnya, yaitu di kotagede. plered adlah ibukota yang baru, yang dibangun ketika susuhunan mataram [kelak disebut sultan agung:]berjaya.
sultan agung tidak sempat bermukim di plered yang dibangunnya. dia lebih sering di karta -3 km di barat plered- setelah meninggalkan kotagede. plered ditinggali oleh putranya yang sering digambarkan sebagai bengis, paranoid dan diduga sakit jiwa karena menyampakkan golongan islam yang semakin menguasai istana, di masa orangtuanya. dia suruh bunuh 5000-an ulama, dia campakkan pula gelar sultan yang kearab-araban, dan dia bangkitkan kembali sentimen jawa dengan menggunakan gelar lama susuhunanamangkurat.
buku yang dituturkan kembali oleh darja de wever ini mengambil setting ketika susuhunan amangkurat agung ini bertahta, di istananya yang baru, yang dikitari oleh danau buatan: plered.
darja memberi pengantar, dan kemudian memberi banyak catatan samping [marginalia:] tetnang istilah-istilah bahasa belanda lama yang digunakan van goens, nama-nama tempat yang sudah berubah dari jaman van goens, dia tambahkan juga peta, gambar dan foto-foto, ditambahkan pula nomor paragraf, sehingga buku ini lebih semarak dan bisa diikuti oleh orng masa kini.
siip…
perjalanan ngonthelku terasa lebih bermakna dengan pertolongan buku perjalanan ini!

javaense reyse

perjalanan bersepeda onthel beberapa hari ini, mengigatkan saya pada perjalanan dinas rijklof van goens yang dari batavia, lewat semarang, sampai ke sini, plered. tempat saya juga mengakhiri perjalanan dari muter-muter kawasan perdesaan di pinggiran yogyakarta.
catatan utusan VOC ini, menggambarkan bahwa plered adalah ibukota mataram. bukan kota pinggiran, meski tempatnya bergeser beberapa kilo dari ibukota mataram sebelumnya: kotagede. plered adlah ibukota yang baru, yang dibangun ketika susuhunan mataram [kelak disebut dengan hormat oleh para keturunannya sebagai sultan agung] berjaya.
sultan agung tidak sempat bermukim di plered yang dibangunnya. dalam proses pembangunan itu beliau lebih sering berada di karta -3 km di barat plered- setelah meninggalkan kotagede. plered ditinggali oleh penggantinya yang sering digambarkan sebagai raja yang bengis, paranoid dan diduga sakit jiwa karena menyampakkan golongan islam yang semakin menguasai istana, sejak  masa akhir pemerintahan orangtuanya. dia suruh bunuh 5000-an ulama, dia campakkan pula gelar sultan yang kearab-araban, dan dia bangkitkan kembali sentimen jawa dengan menggunakan gelar lama susuhunan amangkurat.
buku yang diterbitkan kembali dengan pengantar dan catatan-catatan tambahan oleh darja de wever ini mengambil setting ketika susuhunan amangkurat agung ini bertahta, di istananya yang baru, yang dikitari oleh danau buatan: plered.
darja memberi pengantar, dan kemudian memberi banyak catatan samping [marginalia] tetnang istilah-istilah bahasa belanda lama yang digunakan van goens, nama-nama tempat yang sudah berubah [misalnya silimby yang ternyata adalah kota bayalali sekarang], dia tambahkan juga peta, gambar dan foto-foto, ditambahkan pula nomor paragraf, sehingga buku ini lebih semarak dan bisa diikuti oleh orng masa kini.
siip…
perjalanan ngonthel saya kali ini terasa lebih bermakna dengan pertolongan buku laporan perjalanan ini!