Posts Tagged ‘media’

jokowi memang beda

jokowi 1 jokowi 2
majalah TEMPO menyajikan foto bagus tentang jokowi.
foto ini diambil ketika beliau sedang menunggu proses perbaikan tanggul KANAL BANJIR BARAT di daerah latuharhari, jakarta.
fotonya dengan jitu menemukan momen ketika orang beliau sedang cemas, geregetan, dengan sikap badan jongkok.

sikap ini tergolong “ndesa”, karena tidak memedulikan jabatan dan posisi sosialnya.
beliau mengistirahatkan badan dengan jongkok di tempat. bukan duduk di tempat yang bersih atau pantas.
spontan ia merendahkan badan di tempat ia berdiri.

sikap ini berbeda dari orang-orang lain di situ.
lihatlah,
hanya beliau yang melakukannya.
mungkin beliau memang berbeda dari orang-orang yang sama-sama berada di tempat yang sama.
karena berbeda itulah maka beliau menjadi sasaran kamera wartawan.

momen ini berharga, karena dalam waktu yang mungkin sebentar, memperlihatkan perbedaan kultur antara beliau dengan orang-orang lain di sekitarnya.

media, lokasi baru sengketa

rasanya kok ini adalah atraksi bikin-bikinan, agar indonesia rame.

agar rame, setelah FPI bikin kekasaran di mana-mana, dibikinlah aksi tandingan yang bernama “indonesia tanpa FPI”.
dan agar ada konflik horizontal, maka ketika demo “indonesia tanpa FPI” berlangsung, dibuatlah seolah ada yang tidak setuju dengan demo itu yang merebut spandoek. lihatlah bagaimana pemuda bertopi [yang nanti akan merebut spandoek itu] menganggukkan kepala seolah memahami kode yang diberikan kepadanya, pada detik ke 0:10.
ia menganggukkan kepala pada seseorang di samping [atau malah] fotografernya sendiri.

bagi saya, insiden ini adalah suatu pertunjukan lewat media massa. sudah diatur dan ada yang ngatur.

media, menjadi lokasi baru bagi penciptaan isu, penciptaan citra dan opini massa, karena masyarakat kita sekarang lebih sering di muka kaca tivi dan internet!

pertunjukan damai pertunjukan kekerasan

D-oVmZNWcXw

pukul 08:15 saya keluar rumah.

direncanakan jam segitu bram dan rombongan bersiap-siap di makam kotagede.
saya langsung menuju ke sana, mengambil jalan yang melewati markaz MMI [majelis mujahidin indonesia] jalan karanglo, kotagede.
di markaz, saya tengok berderet-deret sepeda motor di belakang gerbang. dua-tiga orang berrompi hitam lalu lalang. saya langsung ke makam kotagede.

di sana sepi. tidak nampak ada rombongan banyak orang.
ada segerombolan orang di warung. mungkin juga itu mereka karena saya lihat ada salah satu yang seperti mengenali saya.
saya kembali lewat markaz MMI untuk ke bengkel mobil yang kebetulan berada di dekatnya. menanyakan ke bengkel langganan saya itu mengenai mobil saya yang macet.

di dekat markaz, saya berhenti untuk mengirim sms ke KB dan BM mengenai rencana performance bram kok belum nampak tanda-tanda mulainya. posisi saya membelakangi gerbang MMI. sambil menunggu balasan tiba-tiba terdengar suara komandan menyiapkan pasukan. rupanya itu sepasukan MMI yang sedang berbaris di muka gerbang tanpa saya ketahui. lalu saya tanya-tanya ke mbak penunggu warung di dekat situ:

“onten napa nggih mbak kok rame?”
“ooh… niku ajeng onten tamu, ning duka sinten.”

segera saya menyingkir dan menitipkan motor saya ke bengkel mobil langgganan tadi. lalu saya kembali ke markaz, yang sudah penuh oleh wartawan dan polisi bersedan. saya nongkrong di tukang tambal ban.

“ajeng onten tamu nggih pak, kok MMI rame?”
“sajake ngoten, pak. mujahidin¬†asring nampi tamu-tamu penting. baasyir napa sok ten ngriki kok”
“ning rak mboten ngganggu ta?”
“ngganggune niku mboten, ning mentale tiyang-tiyang ngriki sok mboten sekeca. lha sok-sok niku enjing-enjing lari-lari kados ajeng perang nika. niki kalih FPI sak ndhuwure… luwih keras malih”

satu mobil avanza silver membunyikan klakson. agaknya cara saya jongkok di tepi jalan di tukang tambal ban itu terlalu memakan badan jalan.. hehe..
turun dari mobil tadi ada tiga orang yang netjis. yang segera menempatkan diri di seberang markaz. para polisi yg sudah duluan datang mengenali mereka bertiga dan memberi hormat. rupanya ini atasan mereka, meski berbusana preman.
saya tanya ke salah satu dari mereka bertiga: “ada apa ya pak kok rame?”
dia hanya tersenyum tanpa menjawab.

saya kontak ke KB dan BM.
jam 09:00 jalan karanglo sudah dikepung oleh MMI dan polisi. mereka berjajar di tepi-tepi jalan itu. KB yang saya beritahu, lalu berjanji akan berangkat. saya silakan lewat ringroad saja, karena dari arah kotagede sudah ramai, malah mungkin sudah macet.
pukul 09:15 satu truk polisi datang dari arah timur, menurunkan banyak sekali polisi dari dalamnya. juga datang dua sedan polisi yang kemudian memarkir di dekat saya.

satu orang anggota MMI memindai dengan kameranya. semua orang di sekitar markas dipindai, termasuk warung-warung di seberang markaz. saya menyembunyikan muka di balik banner warung penjual pulsa. anggota MMI ini sudah terlatih untuk menghimpun informasi dalam suatu operasi.

beberapa menit kemudian peristiwa berlangsung cepat. saya tidak bisa memastikan waktunya.
bram naik andong dari arah barat. di depannya mobil sedan polisi dengan lampu di atas yang berkedip-kedip berjalan mendahuluinya.
orang-orang MMI meneriakkan takbir dengan mengangkat kepalan tangan mereka, di kedua sisi jalan. wartawan meringsek. beberapa anggota MMI menyisir di lingkaran luar orang-orang ini. ini semacam team yang bermaksud mengisolasi.
begitu andong berhenti, bram menguluk salam, ditanggapi keriuhan yang mengerikan di telinga saya.
dia diseret keluar, ke kanan andong.
dikeroyok,
entah dipukuli atau tidak saya tidak bisa jelas melihat. diayun ke rombongan lain di dekat markaz. tapi kemudian dikembalikan lagi ke selatan lalu ada keributan karena polisi bermaksud “mengamankan” bram dengan “seolah mencegah” bram celaka.
kusir andong ketakutan.
kuda mengangkat kaki depannya.
seorang anggota MMI dengan marah mendorong andong itu untuk meninggalkan tempat.
saya baru tahu kemudian, bahwa dia ini adalah salah satu yang diwawancara wartawan, nanti setelah semua selesai. [petinggi/panglima MMI?]

bram diayun-ayun lagi, kali ini dilontarkan ke truk polisi, dan dalam waktu cepat semua anggota polisi masuk ke truk tadi dan truk berjalan ke timur. polisi yang lain menempeleng anggota MMI tanpa saya tahu sebabnya. yang lain melerai dan mencegah agar tidak menyeret-nyeret bram lagi.

maaf, saya menganggap sikap polisi di sini kok seperti bermain sandiwara di depan publik. seperti pertunjukan yang di diatur bagus yang saya gak tahu apakah sudah diperhitungkan oleh bram. cara MMI mempersiapkan diri, cara mereka mengisolasi dan mempersiapkan semuanya begitu kompak saling menunjang.

saya pergi ke bengkel lagi, mengambil motor dan pulang.
lewat polsek banguntapan, saya lihat banyak polisi masih di sana. pintu utamanya tertutup dan dijaga. lalu saya kembali ke markaz, ingin tahu saja apa yang terjadi selanjutnya.
petinggi MMI sedang diwawancara wartawan. polisi masih ada beberapa mendampingi.
lalu ada truk polisi dengan sirena mendenging dari arah utara ringroad berjalan ke selatan.
mungkin itu truk yang mengangkut bram dari banguntapan ke bantul.

saya pulang untuk mengisi bensin dan menuliskan ini sesampai di rumah.
saya tidak tahu,
apakah bram memang cuma mau bikin sensasi dengan “mengganggu” macan tidur macam MMI.
menurut pengakuannya, ini sudah dipersiapkan lama sebelumnya. tidak hendak menggemakan penolakan pada FPI baru-baru ini. tapi peristiwa ini mendapat liputan banyak media. artinya, dia bermain di titik sensitif untuk menyuarakan pesannya ke publik yang sangat luas, berkat kerakusan media akan berita.
saya kira,
pesannya sampai: pertama, bahwa kekerasan masih ada dan dipraktikkan oleh kelompok-kelompok agama.
namun demikian, yang kedua, masih ada orang yang mengusahakan agar kekerasan itu diakhiri.
dalam peristiwa melontaran ide hingga eksekusi di lapangan, nampaklah bahwa pesan itu sudah dinyatakan dan seketika juga tersebar di seluruh dunia.
apakah polisi dan anggota MMI yang dalam pertunjukan ini menjadi aktor-aktor “simpingan kiri” sadar bahwa mereka sedang “dimainkan”?

link mengenai rencana bram dengan pertunjukannya:
http://www.rimanews.com/

1 2