Posts Tagged ‘media’

paper is not going away…

Co.Design: One of the first things you say in the book is that paper isn’t going away. Not everyone is convinced. How can you be so sure?

Bill Moggridge: It’s all to do with the nature of the experience. I think of electronic books and online book content as being good news for book designers. Because what it means is: If you just want the content in a text form, then why would you ever buy a physical book, because you can read it so successfully on an e-reader. However, if you want to enjoy a book, you buy it because it’s beautifully designed — the paper is wonderful, the color is delicious, you can smell it, you can thumb through it, you can pick it up and feel heft the way you can’t with an e-reader. So if you’re going to stick with the physical book, then let’s make sure the design of the physical book really engages you and makes you want to luxuriate in it.

click this link for the rest interview…

tillema dan air bersih

Een propagandist van het zuiverste water: H.F. Tillema (1870-1952) en de fotografie van tempo doeloeEen propagandist van het zuiverste water: H.F. Tillema (1870-1952) en de fotografie van tempo doeloe by Ewald Vanvugt
My rating: 4 of 5 stars

ini buku lama, saya membacanya di perpustakaan erasmus huis jakarta, yang membolehkan saya membuat fotokopinya.
meski sudah lama, tapi terasa masih baru bila menimbang bingkai yang dipakai untuk mengulas seorang pribadi historis dan sepak terjangnya.

buku ini mengulas peran media, dalam hal ini fotografi, dalam membangun citra tentang rakyat dan tanah jajahan. fotografi ini telah dimainkan dengan bagus oleh seorang apoteker yang juga anggota dewan kota semarang, h.f. tillema.
foto-fotonya luar biasa banyak dan bermutu.
mutu yang dimaksud adalah kandungannya yang sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu antropologi maupun arsitektur.

tillema, yang kaya raya berkat usahanya sebagai apoteker yang jualan air mineral, tahu bahwa masalah higiene adalah perkara yang bisa diduitkan. ia jual air murni [yang dijadikan judul buku ini “zuiverste water“] sambil keliling ke sana-sini, ke antero nusantara dengan kamera kerudungnya. memotreti hunian dan penghuninya untuk merekam tingkat higiene mereka.

bersih dan kotor, suatu kategori yang luwes dan sering kolonialistik [pribumi kotor, orang eropa bersih] bekerja dalam mengendalikan seleksi fotonya berikut analisisnya. foto-foto tentang hunian tradisional di nusantara ini jadi rujukan buku-buku arsitektut tradisional di tahun-tahun sesudahnya saking lengkapnya.
ia menerbitkan sendiri bukunya -magnum opus- yang diberinya judul KROMOBLANDA. lima jilid dan dicetak tidak lebih dari 10 biji untuk diberikan ke beberapa perpustakaan di dunia waktu itu.
di itb hanya ada fotokopinya. di univ. tarumanegara sepertinya ada satu kopi aslinya.
saya tidak tahu di mana yang lainnya.

vanvugt dalam buku ini mendudukkan tillema, jasa dan dampak dari buku serta foto-fotonya pada pelanggengan ketergantungan intelektual indonesia pada karya-karyanya. media adalah sarana kolonialisasi modern!

[lebih jauh mengenai tillema silakan klik link berikut ini http://www.inghist.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn5/tillema]

vademecum

“pergilah bersamaku”. demikian kira-kira arti kata itu.
tapi, pengertian itu tidak menjelaskan apa-apa bila dikenakan pada sebuah buku yang diberi nama demikian: vade me cum. buku yang setahu saya diakrabi oleh rekan-rekan di ranah kedokteran dan farmasi sebagai buku yang berisi daftar obat-obatan atau daftar tindakan yang bisa dirujuk setiap saat dibutuhkan.
menimbang fungsinya yang demikian, lebih cocok bila istilah itu dipahami sebagai “bawalah aku bersamamu pergi”.
namun,
bukanlah saya yang menentukan pemberlakukan makna dari kata itu. dibutuhkan kesepakatan banyak pihak untuk mengesahkannya. bahasa dan proses pembentukan istilah adalah tindakan sosial. berlangsung lama, meski bisa juga dipercepat dengan kekuatan media.

apa yang selalu saya bawa?
dulu kertas atau buku sketsa dengan pensil berjelaga ukuran 6B. sekarang hape dan notes kecil berjilid ulir dan pensil tulis ukuran 2B. ada kebutuhan yang berbeda dari dulu ke sekarang, meski pun keduanya sama-sama alat perekam. sejak tangan saya lebih sering menggunakan keyboard, maka gerakan jari-jari jadi miskin. tidak mampu lagi luwes menuruti kemauan kepala dalam melakukan visualisasi gagasan. gagasan di kepala sudah berubah menjadi aksara yang terbentuk dari ketukan jari-jari di keyboard tadi.
hal-hal visual sudah berganti dengan yang lebih abstrak. mata masih berperan penting, meski pun yang terlihat sudah beda.

[syukurlah, tadi siang saya harus menjelaskan sesuatu. rupanya tangan dan kepala saya masih akur sehingga saya masih bisa menggunakan abstraksi melalui gambar, diagram dari pada denga kata-kata. bertahun-tahun terlatih dalam merumuskan gagasan secara visual, rupanya memperkaya pengalaman komunikasi saya]

apa yang selalu saya bawa pergi? alat-alat perekam gagasan: bisa pensil dengan kertas, bisa laptop atau hape. namun bisa juga hanya dengan jari menggores di permukaan tanah… rupanya, saya tidak bisa terpisah dari alat atau sarana perekaman ini. dialah yang menjembatani komunikasi saya dengan orang lain. bahkan dengan diri sendiri dalam refleksi.

dialah medium atau media.

1 2