Posts Tagged ‘modern architecture’

a modern house

My prescription for a modern house?

One — a good site. Pick that one at the most difficult spot

— pick a site no one wants — one that has features

making for character: trees, individuality,

a fault of some kind in the realtor’s mind.

That means getting out of the city. Then — standing on that site,

look about so that you see what has charm.

What is the reason you want to build there?

Find out. Then build your house so that you may still look from where

you stood upon all that charmed you and lose nothing of what

you saw before the house was built.

frank lloyd wright [1844-1959]

 

modernitas tropik

Tropical ModernityTropical Modernity by Jan van Dullemen

My rating: 3 of 5 stars

buku ini datang tiga hari lalu.

pesanan cepat dikirim. hanya sekitar 5-7 hari sebelumnya buku ini aku pesan, lalu segera datang dalam keadaan sempurna.

bagus,

banyak gambar

dan sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris oleh peter mason.

buku yang terbit sebagai hasil penelitian bertahun-tahun ini [lebih dari 5 tahun, sebagaimana jatah penelitian doktoral] tebal dan dirancang secara visual dengan bagus. dipenuhi [ya, banyak sekali foto dan gambar ditampilkan di buku ini] sehingga dengan mengabaikan teksnya pun kita bisa senang membuka-bukanya.

tapi justru di situlah saya dengan cepat meninggalkan buku ini.

buku ini memang berniat untuk menampilkan sosok arsitek schoemaker berikut karya-karyanya. selengkap mungkin dari data yang bisa dikumpulkan. usaha mendapatkan data lengkap ini dikarenakan kosongnya data mengenainya. karenanya bisa dimaklumi bila waktu untuk analisis terhadap karya arsitekturnya kurang berkembang.

buku membagi atas:pengantar mengenai kondisi geografis dan sosial hindia belanda di peralihan abad XIX-XX, lalu beberapa arsitek tenar [semuanya belanda] yang sejaman schoemaker, ulasan mengenai karya-karya arsitektur modern belanda di tanah jajahan masa itu, lalu ulasan mengenai tipe-tipe baru bangunan modern dan kesimpulan. di bagian belakang ditampilkan daftar dan foto karya-karya lengkapnya.

buku ini tentu memuaskan rekan-rekan yang suka dengan gambar-gambar dan cerita mengenai masa lalu arsitektur modern awal di indonesia. suatu buku persembahan untuk mengisi data yang kosong tadi. tentu, setelah ini dibutuhkan catatan kritis mengenainya. mengenai cara menyusun data, cara menempatkan tokoh di dalam konteks sosio-historisnya… dan ulasan reflektif mengenai masa awal arsitektur modern di indonesia.

buku ini tidak bercerita mengenai arsitektur indonesia, tapi arsitektur DI indonesia, sebagaimana dirancang oleh seorang arsitek belanda. ada pra anggapan bahwa arsitektur itu adalah melulu lahir dari buah pikir arsiteknya, seperti layaknya karya seni rupa sebagai ciptaan senimannya. padahal, arsitektur itu dipenuhi campur tangan berbagai pihak agar bisa mewujud, bukan melulu arsiteknya. pandangan seperti ini tidak cocok dengan realita proses pembangunan. meski pun ini bisa jadi cocok untuk kasus schoemaker, tapi itu membutuhkan kondisi khusus, di mana arsitek pegang otoritas penuh atas proses pembangunan.

mungkin kondisi yang menyekitari schoemaker memang seperti itu. tapi hal itu tidak nampak dalam paparan buku ini.

abstraksi dan pengalaman

saya sadari, selama ini rupanya saya belajar arsitektur dari abstraksi. kita perlakukan arsitektur sebagai komposisi dari konsep-konsep abstrak seperti: titik, garis, bidang, volume. dengan mengabaikan bahan yang akan berperan sebagai titik, garis, bidang dan volume itu, maka dilakukanlah transformasi padanya: ditambah, dikrowok, ditempel, ditopang, digantung, dipuntir, ditekuk dan berbagai operasi transformatif lainnya.

kita diminta untuk menyebut dinding sebagai bidang tegak, lantai sebagai bidang horizontal bawah, langit-langit [dan kadang-kadang atap] sebagai bidang horizontal atas, kaca sebagai bidang transparan, pintu dan jendela disebut sebagai bukaan

begitulah, maka kegiatan di studio adalah kegiatan yang mengolah konsep-konsep abstrak tadi menjadi suatu komposisi abstrak pula, suatu abstraksi mengenai arsitektur yang tersusun atas elemen-elemennya. bila pun arsitektur abstrak ini hendak diletakkan di suatu situs yang real, maka situs tadi harus juga diabstraksikan, diubah menjadi suatu benda abstrak yang terbangun dari komposisi titik, garis, bidang atau volume.

karena komposisi ini adalah abstraksi, maka ia bisa divisualisasi dengan bahan dan media yang bermacam-macam: model grafis CAD, maket dari karton maupun plastik, gips, dsb. maket-maket tersebut memodelkan pohon, tanah, genting, kaca, teraso, beton, kayu dengan bahan yang sama. tidak hadir di sana kualitas atau karakteristik masing-masing bahan. demikian pula dengan model CAD, maka arsitektur yang dilahirkan seolah mengapung tanpa berat, tanpa tarikan gravitasi, bisa diputar kesana-kemari dengan ringannya.

beda halnya dengan cara memandang arsitektur yang berangkat dari pengalaman. pengalaman tubuh dengan segenap inderanya dalam berinteraksi dengan pasir, tanah, bata, batu, bambu, kayu, plastik, besi, kaca yang memiliki segenap sifat-sifatnya: berat, ringan, porous, getas, lentur, mengilap, kusam, kasar, licin…

bila kita melihat bangunan atau arsitektur sebagai realitas yang tersusun atas bahan-bahannya, maka kita akan tahu bahwa itu semua punya bobot, punya kualitas permukaan, kelenturan, porositas yang berbeda-beda dari bahan satu dengan yang lain.  kita tidak bisa memaksa bambu dibuat bidang datar sedatar beton pracetak. sulit pula membuat sambungan bambu sebersih sambungan las pada besi baja. sebenarnyalah, bahan-bahan itu sudah punya sifat yang justru harus ‘diajak bekerja sama’ katimbang ditundukkan untuk menuruti kemauan arsiteknya.

belajar arsitektur bisa menempuh kedua hal itu sekaligus. untuk itu nantikan posting berikut…