Posts Tagged ‘modernity’

20th century: the age of extremes

The Age of Extremes: A History of the World, 1914-1991The Age of Extremes: A History of the World, 1914-1991 by Eric Hobsbawm

My rating: 4 of 5 stars

saya barusan ambil kembali buku ini dari rak simpan.
hobsbawm adalah pencerita yang mengesankan: terkesan maksain interpretasinya sendiri tapi cerita yang dibangunnya bisa kita maklumi. itulah pandangan dia. artinya, masih tersisa ruang bagi orang lain untuk menuliskan interpretasinya sendiri.

dia menyebut abad ke-20 sebagai abad yang singkat.
singkat dan karenanya unik. paling tidak, menurut dia, ada 3 hal yang membuat rentang waktu seabad itu begitu unik dibandingkan dengan rentang abad yang lewat:
– it was no more eurocentric,
– the globe has become a single operational unit
– the disintegration of the old human social relationships.

buku ini mengambil tahun 1914 sebagai awalnya dan 1990 sebagai akhir pembahasan. tidak semua hal ia masukkan, karena bukan ambisi dia utk menulis sebuah kisah lengkap dunia.

itu dulu…

teknologi modern dan kolonialisasi

Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah KoloniEngineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni by Rudolf Mrazek

My rating: 5 of 5 stars

saya membaca buku ini sudah dalam terjemahan indonesia. namun demikian, tidak kendor penghargaan saya padanya.
buku ini mengulas [atau memanfaatkan bahan] sejarah dengan meneliti benda-benda. suatu pendekatan baru yang mengamati muncul, berkembang dan surutnya penggunaan benda-benda sesehari.
dari kereta api -misalnya- tergambarlah modus ekonomi kolonial dan pribumi sekaligus, dmeikian pula konsep tentang progres/kemajuan, tentang terbukanya ruang-ruang isolasi tradisonal. demikian pula ulasan tentang koran dan berkala yang semuanya kelak menuju terbangunnya kesadaran tentang nation.

pendeknya, sebagai metoda buku ini baru dan perlu dibaca.

modernisasi pembersihan badan

kamar mandi tadi menyatu dengan jamban.
hal yang umum pada rumah-rumah yang sudah bisa memisahkan saluran buangan jamban tadi dengan buangan dari air sabun habis dipakai mandi.
ada anggapan bahwa air sabun tidak boleh menyatu dengan buangan dari jamban, agar sabun tidak membinasakan bakteri-bakteri pengurai kotoran yang dibuang di jamban. karena itu, keduanya harus dipisah pembuangannya.

saya tidak tahu, apakah anggapan itu masih berlaku.
tapi yang jelas, dari dulu orang mandi dan membuang kotoran di sungai di tempat yang terpisah. meski pun hasil buangan keduanya bakal menyatu di aliran hilir sungai itu.

kotoran yang menempel pada badan dibuang lewat guyuran air mandi, sedangkan kotoran dari dalam badan dibuang lewat jamban lalu diselundupkan di bawah tanah atau dibuang ‘entah kemana’ melalui aliran selokan dan kali. kedua jenis kotoran itu berbeda nilainya. baik nilai higiene maupun nilai kulturalnya.

kloset -atau jamban- yang saya duduki barusan, berada dalam satu ruang dengan kamar mandi. kamar mandi ini berupa pancuran [shower] yang dipasang di depan kloset tadi, yang dimungkinkan penyatuan ini oleh teknologi bahan bangunan yang memungkinkan pemisahan buangan mandi dan buangan kloset sehingga keduanya tidak tertuang ke satu tempat.
istilah kloset ini mengindikasikan asal-usulnya yang dari barat, yang kita dapat melalui modernisasi dan kolonialisasi. lewat modernisasi cara kita membersihkan diri, kita sekarang lebih memilih mengikuti cara baru ini. cara-cara lama telah kita -paling tidak untuk keluarga tempat saya membersihkan diri ini- tinggalkan, digantikan oleh cara modern yang lebih bisa diterima dan memberi berbagai kemudahannya.

dulu, kita mandi dan buang air besar di tempat terpisah, meski muara dari buangannya menyatu. sekarang setelah modernisasi, kita mandi dan buang air besar di tempat yang menyatu, tapi buangannya terpisah satu dari lainnya.

the invention of “saru”

seharian kemaren menemukan beberapa artikel yang menggunakan judul “inventing” atau “invention”. sejak dari tulisan eric hobsbawmthe invention of tradition” hingga tulisan tentang lahirnya atau ditemukannya [kembali] pengetahuan-pengetahuan tertentu, tradisi, kebiasaan, adat tertentu. pada dasarnya, tradisi yang ditemukan ini adalah semacam konstruksi “masa lalu rekaan” sebagai respons terhadap situasi masa kini. memberi jawab terhadap masalah masa kini dengan menggunakan rumusan yang ‘seolah-olah’ kita warisi secara tradisional dari masa lalu.

dan hari ini saya menghadapi buku dengan judul “the invention of  pornography: obscenity and the origins of modernity, 1500-1800”  yang disunting oleh sejarawan perempuan lynn hunt. mengaku diinspirasi oleh serial buku foucault [the history of sexuality 1-3], buku suntingan ini merupakan hasil dari suatu konferensi dengan tajuk sama di pennsylvania, 1991.

kita tidak tahu secara pasti kapan pornografi lahir,  sebagaimana banyak pengetahuan lain juga tidak bisa ditetapkan kapan ia dirumuskan. tapi yang agak pasti, usaha membuat hal privat menjadi publik itu dimungkinkan oleh gairah rasa ingin tahu yang berkembang di sekitar renesans, pencerahan dan nantinya berkembang setelah maraknya industri media cetak. pendeknya, pornografi berhubungan dengan modernitas.

memang penempatan gambar alat genitalia atau aktivitas kopulasi secara terbuka itu sudah dikenal sejak jaman gerika kuna, dan di india bahkan lebih kuna lagi. tapi itu semua tidak sedang menyerempet-nyerempet kaidah sosial semasa. artinya, pornografi berkaitan dengan ‘ketidaknormalan’, dengan usaha melawan kenormalan yang meminta kebebasan. secara tegas penulis mengatakan bahwa [h.10],

although desire, sensuality, eroticism and even the explisit depiction of sexual organs can be found in many, if not all, times and places, pornography as a legal and artistic category seems to be an especially western idea with a specific chronology and geography. as a term in the modern sense, pornography came into widespread use only in the nineteenth century

pornografi juga berkaitan dengan adanya peningkata kontrol karena munculnya demokratisasi yang dinilainya ‘kebablasan’. dan buku ini menempatkan kasus-kasusnya, rusia, italia, inggris, belanda dan utamanya prancis di tahun-tahun awal modernitas pasca renesans: 1500- 1800. kurang lebih sejaman dengan pendirian candi sukuh di jawa tengah [1450-an].

pornografi mengambil tempat di perbatasan, antara kepatuhan dan pencarian alternatif terhadap suatu sistem norma. dan keberanian seperti ini sudah berlangsung di banyak tempat dan waktu. hanya berkat kapitalisme media massa saja maka persebaran ini jadi meluas dan menjadi suatu kategori pengetahuan tersendiri yang bernama promografi, eh…pornografi.