Posts Tagged ‘mythos’

potret keluarga, potret bangsa

merumput di istana negarasemalam nonton pembukaan pameran foto, benda kenangan dan film dokumenter FATMAWATI SUKARNO, di jogja gallery.
berangkat dengan males, karena paling-paling ini nanti bakal nonton pameran yang mengultuskan seseorang saja. apalagi yang membuka adalah mas guruh, putera dari ibu fat sendiri. mungkin nanti juga bakalan dipenuhi satgas partai yang mengamankan kawasan tadi. tapi senyampang nungguin anak yang lagi belajar, mending mampir sekalian ke alun-alun yogya.
acara sudah mulai ketika saya sampai di sana. banyak yang berbusana batik, mereka orang-orang penting. sedangkan saya tidak. saya menyatu dengan rakyat biasa, di halaman luar di bawah tenda.
suasananya santai, tertib, tidak ada kesan diamankan oleh satgas partai. ini kesan luar biasa buat saya, karena akhir-akhir ini justru satgas partai yang tidak partisan dan ‘abangan’ tadilah yang mampu membuang citra ‘preman’, sementara kelompok agama yang ‘mutihan’ itu justru sebaliknya menampilkan diri sebagai gerombolan preman!
pameran di dalam tidak jauh beda suasananya. akrab, seperti berkumpulnya anggota keluarga yang saling mengenal satu dengan yang lain. foto-foto yang ditampilkan di sana mirip album keluarga, maksud saya, kumpulan foto kenangan mengenai sebuah keluarga.
foto-fotonya reproduksi sehingga kualitas cetaknya tidak optimal. namun demikian, setelah dua kali memutar, sadarlah awak. ini bukan sekadar pameran foto. yang dipotret bukan sekadar peristiwa yang pernah berlangsung di suatu keluarga, tapi lewat foto-foto ini tampillah justru relasi orang-orang anggota keluarga tadi dengan orang lain di luar keluarga itu.
ini memang keluarga istimewa, sehingga kegiatan sesehari yang ditampilkan dalam potret itu jadi istimewa. ketika kegiatan itu dipotret, dianggap penting sehingga diabadikan, maka makna ‘penting’ di situ mengandung kepadatan yang lebih besar dari pada peristiwa penting di keluarga saya, misalnya.
orang-orang dalam keluarga tadi memang diliputi kabut mitos. sehingga muncul konflik dalam batin, ketika menonton pameran foto tadi yang menampilkan kesehariannya yang lumrah.
sebenarnya, orang-orang dalam keluarga tadi adalah orang-orang historis, makan nasi seperti kita, merumput di halaman, mencuci baju di kali code, naik becak ke sana-sini, menggendong anak [yang kemruyuk masih kecil-kecil] sambil melayani tamu-tamu kenegaraan…
tapi meski demikian, meski orang-orang biasa seperti saya ini tahu bahwa keluarga tadi juga keluarga biasa sama seperti saya punya, tetap saja mereka dianggap istimewa. berhubung dengan kontribusi keluarga ini dalam kepentingan bangsa. [ya, saya memang pernah diajar orang tua untuk hormat pada keluarga ini yang sudah memberikan kepala keluarganya untuk dimiliki bangsa]
itu sebabnya kami [artinya, saya dan keluarga besar orangtua kami] mencintai keluarga ini walau pun belum pernah sekali pun berjumpa muka dengan muka. dan cinta memang menyertakan mitos, menyertakan penilaian yang melampaui fakta historis sehingga peristiwa sesehari jadi lebih padat maknanya.

pameran tadi malam adalah sejenis pengisahan sejarah yang lain. sejarah dari tokoh bangsa yang dilihat dari sisi belakang, sisi keluarga. bila nama ibu fat diimbuhi nama SUKARNO, maka pameran tadi malam memerlihatkan konsekuensi besar yang sudah ditanggung keluarganya.
ah…
ada beberapa orang yang terlihat mengusap air mata… mungkin mereka juga disergap perasaan yang sama dengan saya.

lalayu

tadi pagi saya mengirim sms ke salah seorang rekan sesama asal sala:

ora nglayat?

dia membalas dengan begini:

ora bisa kang, aku ora bisa budhal sebab aku diundang syukuran mantan napi politik ITB. aku cuma ngirim ucapan ‘selamat menempati rumah baru’

saya mengirim sms di atas karena ada orang yang sangat kami kenal kemaren meninggal. orang jawa menyebut ‘ditinggal’ itu dengan istilah ‘kalayu‘, yang darinya muncul pula istilah ‘layon‘ [jenazah], ‘lalayu‘ [diucapkan sebagai ‘lelayu] yang berarti berita kematian.

dalam istilah-istilah di atas ada pengertian yang mengendap di baliknya bahwa hidup itu dibayangkan sebagai suatu proses yang bergerak. ada yang menganggap pergerakannya berpola linier, ada pula sirkuler, dan ada pula yang dibayangkan sebagai spiral: berputar sekaligus bergerak maju dan meningkatkan mutu. hidup dibayangkan seperti perjalanan, lakon.

dalam membayangkan perjalanan itu, ada yang menganggapnya punya titik awal dan titik akhir. bagi masyarakat yang sudah melek huruf hal itu diistilahkan sebagai ‘punya alfa dan omega‘, mengikuti tradisi tulis jaman gerika kuna. jadi, berada di dalam perjalanan tidaklah tiba-tiba nyemplung dan bergerak atau mengalir, tapi punya awalan dan akan menuju pada akhiran yang dibayangkan sebagai ‘peristirahatan’ [berhenti bergerak]. konsekuensi dari anggapan ini adalah harus dijelaskan bagaimana titik awal dan titik akhir itu bisa dibayangkan. karenanya maka orang butuh untuk menciptakan mitos asal-usul, “mitos penciptaan” dan “mitos akhir jaman”.

siang ini layon dari orang yang kami kenal tadi akan dimakamkan, diistirahatkan. tubuh itu sudah tidak bisa lagi mengisi ruang pergerakan manusia, dia sudah meninggalkannya. dan menurut mitos yang dianut sebagian besar dari kami, termasuk dia, waktu pun sudah berakhir baginya. ruang dan waktu sudah berakhir, sudah tertutup baginya, seiring dengan tubuh yang juga sudah dikeluarkan dari ruang hidup orang sesehari. diistirahatkan dalam rumah tinggalnya yang baru.

kebiasaan kami orang jawa, akan ada bunga yang ditabur sepanjang jalan menuju tempat peristirahatan terakhirnya. bunga-bunga ini [sengaja dibuat agar] meninggalkan jejak yang bisa dilacak mundur… yang darinya kita bisa menilai mutu lakon yang sudah dia mainkan.

selamat jalan, anda meninggalkan kami dengan banyak urusan begitu saja!