Posts Tagged ‘palestine’

the green prince

Son of Hamas: A Gripping Account of Terror, Betrayal, Political Intrigue, and Unthinkable ChoicesSon of Hamas: A Gripping Account of Terror, Betrayal, Political Intrigue, and Unthinkable Choices by Mosab Hassan Yousef

My rating: 3 of 5 stars

mmm…
mulai kerasa, bahwa kayaknya penulis buku ini [mosab] gak sendirian dalam menuliskan pengalaman hidupnya di palestina. ramallah, khususnya. banyak fakta yang baru bisa didapatkan dari luar. juga laporan mengenai kejadian-kejadian di luar palestina yang berlangsung sejamannya, tentu ia peroleh dari sumber luar, bukan pengalaman pribadinya.
seberapa besar peran editor buku ini dibanding dengan peran penulisnya yang memiliki pengalaman langsung dari cerita-ceritanya?
saya baca buku ini karena justru tertarik untuk mengetahui “pandangan orang dalam” hamas.
banyak hal yang saya baru tahu, berhubung isu arab – palestina memang tidak pernah menarik minat saya untuk tahu lebih banyak lagi.
namun demikian, saya selalu terganggu oleh kenytaan bahwa yang ia tuliskan ini bukanlah representasi gagasannya. ada pengaruh orang lain di dalam narasinya.
dari sudut itu, saya rasa usaha saya tidak tercapai.
namun demikian, baiklah, untuk sementara saya teruskan saja dulu membacanya.

woow… selesai juga baca otobiografi pendek ini.
lumayan buat mengetahui situasi hamas dari dalam dan dari kacamata subyektif pelaku.
bagi mosab, penyelesaian sengketa kedua negara itu hanya lewat pengampunan, saling memaafkan.
secara personal telah ia buktikan sendiri dalam hidupnya yang mengalami perubahan drastis, perubahan pandangan hidup, untuk “mengasihi musuh”nya. apakah pengalaman personal bisa diterjemahkan ke ranah politik, itu perkara lain.
untunglah buku ini mengambil bentuk otobiografi sehingga tafsiran dan tawarannya tetap bersifat personal, bukan solusi politis.
buku ini diisi dengan kejadian-kejadian yang ia alami yang selipkan pada bingkai peristiwa-peristiwa historis yang sudah dikenal umum. ia mengisi sela-sela peristiwa historis itu dengan tafsiran dan peran dia di dalamnya.
narasi tidak lalu urut, tapi justru terputus-putus, mengikuti apa yang ia alami di mana ia berpartisipasi. malah dia sering tidak bisa memastikan jarak waktu antar kejadian, seperti ungkapan yang sering ia berikan: “beberapa minggu kemudian”. bagaimana pun, pusatnya tetap dia si “aku” yang bercerita dan berperan dalam peristiwa-peristiwa.
seorang anak pendiri hamas menjadi mata-mata israel dengan nama The Green Prince, dan kemudian menjadi kristen dan pindah ke amerika. cerita kayak gini sendiri sudah bernilai ekonomis untuk dijual. jadinya buku ini.
di sini mosab tetap menampilkan ayahnya sebagai seorang pemimpin organisasi yang dihormati, tapi dipecundangi oleh generasi baru hamas yang ingin menggunakan kekerasan. hassan yousef [sang ayah] bukanlah orang seperti itu. ia benar-benar melayani demi ALLAH saja, tidak mengenal kekerasan.
justru di dalam diri ayahnya itulah, mosab melihat nilai-nilai kekristenan mewujud.
akhirnya,
mosab tinggal di amerika, dan dia meyakinkan bahwa ayahnya masih menganggapnya sebagai anak.
beda dengan berita yang mengatakan bahwa ayahnya telah tidak menganggapnya sebagai anaknya lagi!
[silakan klik berita dari huffington post ini, atau ini ]

sama sekali bukan perang agama

ini kutipan yang saya ambil dari pedoman news yang saya harap bisa membikin terang kekalutan kita dalam membaca kasus palestina-israel. ini adalah pernyataan dubes palestina untuk indonesia fariz mehdawi[http://www.pedomannews.com/asia-afrika-australia/9090-mehdawi-50-penduduk-palestina-beragama-yahudi].

JAKARTA, PedomanNEWS.com – Tidak banyak yang tahu bahwa persentase terbesar penduduk di Palestina adalah penganut yahudi bukan muslim atau nasrani yang selama ini dikenal. Hal ini disampaikan oleh Duta besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, ketika ditemui dalam seminar memperingati Hari Internasional Solidaritas untuk Palestina yang berlangsung di Auditorium Yustinus Universitas Atmadjaya, Jakarta, Rabu (30/11/2011).

“Di Palestina 50% penduduknya beragama Yahudi dan sisanya beragama Kristen dan Muslim yang berada di daerah Tepi Barat dan Yerusalem,” ujarnya.

Mehdawi juga heran dengan beberapa orang dan kelompok yang selalu berteriak mendukung Palestina dan mengutuk Israel tetapi mereka tidak tahu permasalahannya yang terjadi di Palestina,

“Saya bingung dan heran dengan isu dan teriakan “Allahu Akbar” dari orang-orang terhadap yang terjadi antara Palestina dan Israel padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada peran sama sekali untuk membantu kami, nol besar,” ungkapnya.

Terkait dengan Indonesia, Palestina membutuhkan bantuan dari Indonesia karena dengan pengalamannya dalam politik dan demokrasi serta sejarah perjuangan mereka selama 350 tahun.

Tanggal 29 November oleh PBB ditetapkan sebagai Hari Internasional Solidaritas terhadap Palestina pada Sidang Umum PBB 12 Desember 1979. Tanggal ini dipilih karena pada 29 November 1947 PBB menerapkan resolusi 181 (II) atau yang dikenal dengan nama Partition Resolution.

Resolusi ini mengatur pembagian Palestina menjadi dua, negara Yahudi dan negara Arab, dengan Yerusalem sebagai corpus separatum kedua wilayah. Namun, hanya satu negara yang lahir dari resolusi ini, yaitu Israel. Sementara Palestina masih diragukan kedaulatannya, bahkan oleh PBB sekalipun.

Rhesa Ivan Lorca