Posts Tagged ‘plered’

ngonthel bersama van goens

Javaense Reyse: De bezoeken van een VOC-gezant aan het hof von Mataram, 1648-1654Javaense Reyse: De bezoeken van een VOC-gezant aan het hof von Mataram, 1648-1654 by Rijklof van Goens

My rating: 4 of 5 stars

perjalanan bersepeda onthel beberapa hari ini, mengigatkan aku pada perjalanan dinas rijklof van goens yang dari batavia, lewat semarang, sampai ke sini, plered. tempatku juga mengakhiri perjalanan dari muter-muter kawasan perdesaan di pinggiran yogyakarta ini.
catatan utusan VOC ini, menggambarkan bahwa plered adalah ibukota mataram. bukan kota pinggiran, meski tempatnya bergeser beberapa kilo dari ibukota mataram sebelumnya, yaitu di kotagede. plered adlah ibukota yang baru, yang dibangun ketika susuhunan mataram [kelak disebut sultan agung:]berjaya.
sultan agung tidak sempat bermukim di plered yang dibangunnya. dia lebih sering di karta -3 km di barat plered- setelah meninggalkan kotagede. plered ditinggali oleh putranya yang sering digambarkan sebagai bengis, paranoid dan diduga sakit jiwa karena menyampakkan golongan islam yang semakin menguasai istana, di masa orangtuanya. dia suruh bunuh 5000-an ulama, dia campakkan pula gelar sultan yang kearab-araban, dan dia bangkitkan kembali sentimen jawa dengan menggunakan gelar lama susuhunanamangkurat.
buku yang dituturkan kembali oleh darja de wever ini mengambil setting ketika susuhunan amangkurat agung ini bertahta, di istananya yang baru, yang dikitari oleh danau buatan: plered.
darja memberi pengantar, dan kemudian memberi banyak catatan samping [marginalia:] tetnang istilah-istilah bahasa belanda lama yang digunakan van goens, nama-nama tempat yang sudah berubah dari jaman van goens, dia tambahkan juga peta, gambar dan foto-foto, ditambahkan pula nomor paragraf, sehingga buku ini lebih semarak dan bisa diikuti oleh orng masa kini.
siip…
perjalanan ngonthelku terasa lebih bermakna dengan pertolongan buku perjalanan ini!

javaense reyse

perjalanan bersepeda onthel beberapa hari ini, mengigatkan saya pada perjalanan dinas rijklof van goens yang dari batavia, lewat semarang, sampai ke sini, plered. tempat saya juga mengakhiri perjalanan dari muter-muter kawasan perdesaan di pinggiran yogyakarta.
catatan utusan VOC ini, menggambarkan bahwa plered adalah ibukota mataram. bukan kota pinggiran, meski tempatnya bergeser beberapa kilo dari ibukota mataram sebelumnya: kotagede. plered adlah ibukota yang baru, yang dibangun ketika susuhunan mataram [kelak disebut dengan hormat oleh para keturunannya sebagai sultan agung] berjaya.
sultan agung tidak sempat bermukim di plered yang dibangunnya. dalam proses pembangunan itu beliau lebih sering berada di karta -3 km di barat plered- setelah meninggalkan kotagede. plered ditinggali oleh penggantinya yang sering digambarkan sebagai raja yang bengis, paranoid dan diduga sakit jiwa karena menyampakkan golongan islam yang semakin menguasai istana, sejak  masa akhir pemerintahan orangtuanya. dia suruh bunuh 5000-an ulama, dia campakkan pula gelar sultan yang kearab-araban, dan dia bangkitkan kembali sentimen jawa dengan menggunakan gelar lama susuhunan amangkurat.
buku yang diterbitkan kembali dengan pengantar dan catatan-catatan tambahan oleh darja de wever ini mengambil setting ketika susuhunan amangkurat agung ini bertahta, di istananya yang baru, yang dikitari oleh danau buatan: plered.
darja memberi pengantar, dan kemudian memberi banyak catatan samping [marginalia] tetnang istilah-istilah bahasa belanda lama yang digunakan van goens, nama-nama tempat yang sudah berubah [misalnya silimby yang ternyata adalah kota bayalali sekarang], dia tambahkan juga peta, gambar dan foto-foto, ditambahkan pula nomor paragraf, sehingga buku ini lebih semarak dan bisa diikuti oleh orng masa kini.
siip…
perjalanan ngonthel saya kali ini terasa lebih bermakna dengan pertolongan buku laporan perjalanan ini!

iter nostrum protege

kemaren saya ikut keliling wisata ziarah ke plered.
mungkin begitulah tepatnya kegiatan minggu pagi itu disebut.
bersepeda onthel mengitari perumahan sendiri, lalu menyeberang jalan wonosari, ke utara hingga ke desa-desa yang namanya hampir semua menggunakan nama tirta, sendang,¬† yang memerlihatkan bahwa desa-desa itu memang kaya dengan air. mungkin di masa lalu memang ada sumber air di situ, yang sekarang terlindung oleh kebun-kebun tebu…

perjalanan di atas jalanan mulus menembusi sawah dan kebun tebu itu dilanjutkan hingga ke kawasan prambanan dan bukit baka. dengan selamat kami melaju terus ke selatan menyusuri perbukitan kapur piyungan hingga masuk ke wilayah plered. persinggahan yang sudah disepakati di antara para pengonthel ini: makan soto di warung mbak nunuk, plered.

jalur itu sudah pernah saya susuri.
tapi, kali ini saya menggunakan sepeda, tidak lagi sepeda motor.
kecepatan orang bersepeda memberi berkah pemandangan yang lebih lama untuk dinikmati. tidak bergegas cepat seperti ketika naik motor.
kami juga sempat untuk membacai macam-macam pengumuman, poster-poster, grafiti, nama-nama gang, nama desa dan dusun… lebih lama melihat reaksi wajah-wajah ramah orang-orang perdesaan.
bersepeda, dengan kecepatannya yang sedemikian, memberikan lanskap yang lebih lengkap mengenai dunia sekitar saya sendiri.

ini mirip orang yang sedang berziarah.
menjalani proses perjalanan yang untuk sampai ke tujuan haruslah melalui tahap-tahap pendahuluannya. tahap-tahap yang tidak bisa diabaikan, atau dilewati tanpa interaksi.
ziarah itu mengandaikan adanya penghayatan sedang berproses, penghayatan bahwa ia sedang berada dalam tindakan berjalan.
bisa dimaklumi bila dulu di eropa, kegiatan ziarah menuju roma atau menuju tempat-tempat suci lain, jalur perjalanan para peziarah itu melahirkan kota-kota baru. permukiman-permukiman baru.
tempat-tempat itu memang adalah tempat-tempat interaksi, tempat menunggu, berteduh, beristirahat, berjumpa dengan para peziarah lain sehingga lama-lama menjadi juga tempat menetap.

berziarah bukanlah berjalan agar cepat-cepat sampai tujuan, tapi berjalan mencapai tujuan dengan menghayati proses perjalanannya itu sendiri.

kami bersyukur bisa pulang dengan selamat, tapi itu tidak terlalu penting, karena kami yakin pasti bisa pulang dengan selamat. yang lebih penting adalah bahwa kami sudah menyusuri pagi cerah, di kawasan yang bersawah-sawah dengan udara segar.

di desa gergunung [tahu artinya? ini dari kata pager gunung] , suatu desa di tepian pegunungan selatan jawa [lihatlah, bagaimana nama ini langsung menunjukkan realitasnya], kami berhenti sebentar, karena keliru memilih jalan. pak djoni membetulkan bel sepedanya yang ada dua itu.

tapi yang menarik perhatian saya justru tulisan dan gambar pada bel sepeda itu: Sancte Christophore – Iter Nostrum Protege, dengan gambar orang kuat sedang memanggul anak kecil.

saya merasa mengenali gambar ini.
gambar ini adalah gambar yang sangat dikenal oleh para peziarah, yakni gambar orang kuat yang sedang memanggul kanak-kanak yesus kristus seolah melindunginya [christophorus = pemanggul kristus]. santo kristofer, lebih sering saya kenal dengan nama demikian, adalah orang kuat itu. beliau kemudian dijadikan santo pelindung bagi para peziarah. bagi para pengelana…

Sancte Christophore – Iter Nostrum Protege.

memang, santo kristofer, melindungi perjalanan kami.

amen!