Posts Tagged ‘power’

theoretical insight

hari ini saya melihat buku mengenai architecture and authority in japan di meja peserta workshop. buku itu ternyata bisa saya dapatkan ebooknya di internet. yang diulas buku itu adalah mengenai hubungan antara masa pemerintahan seseorang dengan arsitektur yg dibangunnya atau yang terpegaruh olehnya. apa keputusan yg diambil oleh pemerintah pada suatu masa yg berhubungan dengan pembangunan, pengadaan bahan baru, langgam baru, pengubahan dan pembongkaran kawasan tertentu. ini cara memandang kekuasaan secara konvensional dimana kekuasaan atau di sini authority diidentikkan dengan kekuasaan pejabat pemerintahan.

di meja itu saya juga melihat buku lama earthquake nation, buku yang menarik, karena [lagi-lagi] menjelaskan bagaimana produksi arsitektur dipengaruhi oleh hal-hal di luarnya.

bagaimana dengan tajuk penelitian saya sendiri?
bagaimana dengan media?

saya dapat insight karena melihat buku baru.
kayaknya, saya memang perlu melihat buku lain lagi, atau film, atau apalagi yg bisa membantu memberi insight…
yang saya cari memang itu INSIGHT, atau TEORI yang merajut ini semua, mengembangkan ke arah horizon yang baru… di tengah kemacetan ini.

    dinding

    lagu ciptaan the scorpion dibikin ketika dinding pemisah ruang di kota berlin selesai diruntuhkan. ketika elemen arsitektural pemisah itu tidak lagi berfungsi, karena kedua belah pihak yang semula terpisah olehnya, kini telah sepakat untuk menyatu.

    seandainya kedua belah pihak itu tetap berkukuh pada perbedaan pendiriannya, maka dinding itu akan tetap dipertahankan berdiri di tempatnya. dinding mewakili pemisahan, mewakili perbedaan. adalah pembatas ruang yang definitif.

    lagu “the wind of change” jadi semacam monumen karena menandai perubahan itu, dari terpisah menjadi saling merembes untuk menyatu, terembus oleh angin kencang perubahan.

    lain halnya dengan pemisahan antara israel dan palestina. dua bangsa yang serumpun itu kini semakin menegaskan perbedaannya. paling tidak, demikianlah yang terungkap dari video yang memerlihatkan proses pembangunan dinding beton panjang yang meliuk-liuk memerangkap pergerakan orang agar hanya berada di tempatnya saja, tidak melebar, meluap ke mana-mana.

    pembangunan dinding ini memerlihatkan kepercayaan bahwa dinding adalah sarana terpercaya untuk menyatakan pemisahan. bahwa itu tidak efektif lagi untuk mencegah peluru kendali lewat melampauinya, tidak jadi soal. karena yang didirikan adalah suatu simbol, yakni simbol pemisahan. dan mungkin juga simbol kebencian, seperti judul yang dipakai oleh video sepanjang 8 menit itu.

    orang bersusah payah, dengan biaya luar biasa mahal, untuk mendirikan simbol. dan sepanjang sejarah, belum banyak yang mencoba untuk menafsir makna dinding sebagai pemisah ini.  yang dilakukan hanyalah memberi bentuk yang berbeda, tapi muatannya tetap dipertahankan, bahwa dinding adalah pemisah.

    di jepang, ada penulis terkenal di paro abad XX –junichiro tanizaki– yang mengisahkan bahwa dinding rumah petani jepang itu diafan, yang memungkinkan hubungan luar dan dalam itu seperti hubungan osmosis yang saling meresap. beda dari dinding kastil para shogun mereka yang tebal dan berfungsi untuk bertahan dari serbuan musuh.

    dinding di tepi barat, mau pun di kastil jepang memang dibuat dengan kepercayaan bahwa penguasaan ruang adalah perkara kekuasaan. juga di berlin, demikian pula benteng-benteng kota lama -termasuk yogyakarta- baik yang sudah runtuh maupun yang masih tegak, merupakan simbol kekuasaan itu.

    ada yang masih utuh, ada pula yang sudah runtuh. ada yang utuh karena kekuasaannya sendiri memang masih bertahan, ada pula yang utuh karena dibikin utuh oleh aktor yang lain, kapitalisme industri pariwisata, misalnya.

    dinding itu, runtuh atau utuh, masih saja menyimpan ide tentang pemisahan dan penguasaan. divide et impera? huh… embuh!

    theklek

    1.
    theklek dua pasang itu dipasang menghadap keluar.
    saya merasa, agaknya siang itu sang pemilik masih di dalam ruang.

    cara meletakkan theklek itu juga seperti berpihak pada yang ada di dalam; terpasang dalam posisi siap digunakan oleh orang dalam yang mau keluar.
    bukan sebaliknya.

    tapi saya mengambil gambarnya siang-siang.
    yang bagi ukuran orang normal sudah selayaknya orang tidak tinggal dalam kehangatan ruang dalam, tapi keluar, bekerja menggarap alam.

    mungkin saya memahaminya sebagai orang yang dibesarkan dalam alam tropik, di mana orang lebih banyak menjalankan pekerjaan di luar ruang.
    sehingga melihat theklek ini lalu timbul macam-macam pertanyaan.
    pertanyaan orang yang terheran-heran pada perilaku orang dari alam lain.

    melihatnya, saya merasa jadi orang luar,
    sementara yang di seberang ambang pintu itu, garis liminal itu, adalah orang dalam. orang yg hidupnya sehari-hari berada dalam lingkupan bangunan pembungkus.

    siang itu,
    duapasang theklek yang dipasang menghadap keluar dekat ambang pintu itu, menegaskan perbedaan dua ruang dan dua alam: sana dan sini, mereka dan kita, dalam dan luar…

    2.
    kehadiran theklek itu tidak bisa sembunyi-sembunyi.
    ketika ia berfungsi, ia berbunyi.
    dan dari bunyinya itulah ia mendapatkan nama: theklek.

    orang belanda menamainya klompen.
    entah dari mana penamaan itu berasal.
    tapi orang jawa yang tidak punya tradisi beralas kaki, ketika menjumpai alas kaki yang dikenakan orang arab, cina dan eropa, menyerah dengan menamai benda itu seturut dengan bunyinya.

    menamai sesuatu dari bunyinya itu tergolong biasa dilakukan oleh banyak bangsa, sebelum bunyi tadi dipindah ke aksara, menjadi lambang-lambang grafis yang lebih stabil bentuk dan kandungan maksudnya.

    orang jepang, melanjutkan warisan dari cina, memilih memelihara tradisi tulis mereka. aksara mereka itu stabil pengertiannya, atau dengan kata lain, aksara mereka itu melestarikan kestabilan hubungan antara lambang dengan maksud yang dilambangkannya. meski pun suatu aksara itu diucapkan secara berbeda-beda dari tempat satu ke tempat lain. dari jaman satu ke jaman lain.

    menyadari pentingnya aksara, orang jawa memelihara kisah ajisaka yang mengenalkan aksara-aksara derivat dari india. sejak itu, ruang jawa terbuka. sejak dikenal tulisan maka bunyi-bunyi hanya beredar di kalangan privat. dan aksara yang lebih panjang usianya membikin pengertian lebih stabil, perintah raja bisa lebih luas sebarannya, lebih lama pengaruhnya…

    menguasai tulisan, adalah menguasai juga ruang danwaktu.