Posts Tagged ‘representation’

foto dan privacy

fotografer yang sedang dipamerkan lagi karya-karyanya di BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA, adalah seorang pribumi rendahan [terbukti dari nama baptis yang menggunakan nama yahudi :CEPHAS, bukan nama latinnya: PETRUS] dengan kamera di tangan bisa melihat isi tempat tinggal junjungannya.
kamera telah mengubah status sosialnya!

kamera membuat tembok2 tinggi kraton yang melindungi privacy itu serasa gak berarti, karena begitu foto dicetak dan diterbitkan di majalah atau di pameran, maka semua orang jadi tahu isi ruang yang terlindungi kokoh oleh benteng tebal itu, tanpa harus merubuhkannya.

‎[memamerkan ke publik suatu benda yang dilindungi privacy akan membuat juru kunci kehilangan arti. demikian pula karcis gak dibutuhkan lagi.]

media membangun citra

citra rupanya penting dalam pergaulan jaman sekarang. ketika kita tidak bisa bertemu muka dengan muka, maka berbagai sarana komunikasi menjadi medianya. menjadi penengah antara kita dengan orang lain.
namun,
citra yang tidak bisa adalah buatan media tadi bisa kusam atau cemerlang, lempeng atau bengkok, tidak lagi tergantung pada yang dicitrakannya. tukang buat citra, atau penguasa media, ikut menentukan citra kita. produksi citra selain berada di tangan pihak lain, juga tidak butuh konfirmasi dari kita sendiri, yang dicitrakannya.
tadi pagi,
saya mendapatkan kabar bahwa FPI menyerang gereja orthodox di boyalali, jawa tengah. berita yang saya dapatkan dari twitter mau pun facebook ini sungguh menjengkelkan perasaan saya. terbawa suasana, saya muat berita itu di wall facebook saya. dan mengundang berbagai tanggapan teman-teman.
berita ini pun mendapatkan konfirmasinya dari situs resmi gereja ecumenical patriarchate orthodox metropolitanate hongkong sehingga saya merasa tenang setelah mengunggahnya [http://s354358420.onlinehome.us/2011/02/attack-on-an-orthodox-church-in-java/].

On February 24th, the Church of St. Catherine in Boyolali, Java (Indonesia) received an attack by extremist followers of a fanatical Muslim organization.
Today, February 25th, the Church is closed and guarded by Police forces.
Fr.Methodios, Indonesian Orthodox priest, is in good health and asks the prayers of all so that our Lord may protect at this difficult time the Orthodox Community in Java.
In the past several times Muslim fanatics attacked, threatened and beat Fr.Methodios.
In Boyolali the Orthodox Community runs a Kindergarten and last year offered important philanthropic and humanitarian aim to the victims of the deadly earthquakes that struck Java, and to those affected by the eruption of volcano Merapi.
We are anxious about that difficult situation in Java and we pray to our Lord Jesus Christ, the Prince of Peace, to pacify the minds of the fanatical Muslims and to protect Fr.Methodios and all the members of the Orthodox Community.

saya perhatikan,
kebanyakan teman muslim saya lebih banyak terdiam. tidak nampak memberi tanggapan. mungkin marah dengan sikap saya yang memuat berita macam itu. atau mungkin juga malu pada FPI yang sedemikian ganas bertubi-tubi di akhir-akhir ini mengganyang sesama muslim [ahmadiyah] dan sudah membakari banyak gereja di tanah air.
sore ini,
saya menerima kabar, juga dari twitter, sanggahan ruhaniwan gereja orthodox boyalali itu sendiri [rama methodios] yang menyebarkan berita bahwa beliau sekeluarga aman-aman saja. perlu saya muat di sini pernyataan yang menyebar di twitter tadi agar bisa terdokumentasi.

Boyolali 26 pebruary 2011
Menanggapi isu tentang pengrusakan Gereja Orthodox St. Katarina di Desa Pandean Rt 01/04, Pandean,Ngemplak Boyolali. Semuanya itu tidak benar, saya selaku Rohaniwan Gereja Orthodox St.Katarina Memohon kepada Rekan-rekan Hamba Tuhan di Indonesia supaya membuat berita yang sejuk dan kondusif, juga saya minta kepada sesama anak bangsa yang mengakses jejaringan face book atau internet sekali lagi berita Pengrusakan Gereja Orthodox St.Katarina itu tidak benar, kami aman-aman saja. Semoga Kasih Allah selalu Menyertai langkah Pekerjaan Kita. Amin.Saudara Dalam Kristus
Romo Methodios Sri Gunarjo.

pernyataan siapa yang benar? tidak tahu, belum tahu. mengajukan pertanyaan seperti itu biasanya tidak akan mendapatkan jawaban yang tuntas, karena berita di media bukanlah representasi peristiwa, tapi produk atau hasil dari upaya pembangunan citra. entah dibangun dengan anggun, atau dirusak begitu saja.

berbagi lidah

enaknya makanan tidak bisa dibagi.

berbeda dari pemandangan yang indah, atau bunyi yang indah dan enak di telinga, enaknya makanan tidak bisa dibuat representasinya.
tidak bisa diabadikan seperti halnya foto dan rekaman suara. lidah harus datang sendiri.
sama seperti lembutnya sentuhan tangan istri atau harumnya dupa dan bunga melati juga tidak bisa diwakilkan. harus dirasakan sendiri.

tidak heran bila restoran atau warung penyedia makanan enak kemudian lalu dihubungkan dengan lokasi tertentu. karena untuk mencicipi dan menikmatinya, orang harus bersedia berpindah lokasi. harus mau datang ke warung tempat makanan tadi disajikan.
tidak bisa lewat album, CD, kaset, facebook di internet, atau pun lewat deskripsi dalam surat dan buku-buku.

pagi ini saya menjumpai kotak surat kami penuh dengan advertensi.
isinya iklan makanan melulu.
indah-indah gambarnya dalam tata warna yang sedap di mata, dan sebagaimana kami mengenalnya, warna-warni seperti itu biasanya juga enak di lidah. mata memang mudah dipedayai.
restoran penyedia makanan yang diiklankan tadi tersebar di beberapa bagian kota, bahkan ada yang dari kota-kota sekitar kami. furukawa, hamamatsu, shizuoka, dan beberapa yang dari dalam kota toyohashi sendiri.

keunikan makanan dihubungkan dengan lokasi.
ini lalu menggandeng industri wisata juga kerjasama kereta api. stasion kereta api selalu menyediakan brosur gratis tentang makanan unik dan atraksi atau pemandangan unik yang ada di sekitarnya.
mobilitas bisa didorong oleh lidah. oleh keunikan rasa yang hanya bisa dinikmati dengan mendatangkan sendiri lidah kita.

camera obscura – camera lucida

benar seperti dikatakan marshall mc.luhan bahwa kamera [dengan lensanya] mengubah cara kita bersikap terhadap benda-benda, orang di sekitar kita, bahkan pada diri sendiri…
kamera menyajikan suatu representasi visual yang kadang aneh, tidak lazim.
karena yang dilihat oleh mata kamera itu bisa “aneh-aneh”.

gambar di atas ini sungguh-sungguh ada. gambar yang sungguh-sungguh dilihat oleh kamera, tanpa manipulasi apa pun: suatu komposisi tumpuk-tumpuk yang terjadi karena pantulan berbagai benda, lalu poster, dan benda lain dari berbagai arah yang tidak bisa diseleksi oleh kamera.

mungkin karena bagi mata kamera, semua yang di depannya itu ada. sedangkan mata manusia mungkin akan menyeleksi ini dan menghasilkan semacam kesadaran akan adanya keganjilan, hal yang tidak alami, tidak lumrah, tidak natural dari yang dilihatnya. mata manusia akan memisah-misahkan: ini yang benda tenanan, yang itu cuma pantulan, yang itu lagi cuma poster yang menggambarkan sesuatu…

tapi, justru itulah, justru mata manusialah yang merasakan sensasi ini. mata kamera tidak.

dengan adanya sensasi ini maka tampilan itu jadi menarik perhatian [manusia]. itu rupanya yang terjadi dalam diri saya ketika menghadapinya, ketika saya membiarkan mata natural saya mengalah dan membiarkan mata kamera yang saya inceng itu berkeliaran menjelajahi obyek-obyek di depannya.

dengan demikian, saya menyadari bahwa pemandangan jadi lebih kaya. dalam situasi itu saya tetap sadar akan adanya keganjilan visual dalam gambar, tapi sekaligus membiarkannya untuk melihat lebih banyak lagi dari pada yang bisa diberikan oleh mata natural saya. mata kamera menyumbang sesuatu bagi kekayaan batin saya.

sekarang kita menyadari bahwa kita bisa hidup dengan mata kamera. ada tivi, di mana yang dilihat oleh pemirsa itu adalah yang tertangkap oleh kamera di studio saja. pemirsa tidak akan bisa melihat berantakannya studio tivi di belakang lensa kamera. betapa peralatan dekorasi dan berbagai properti panggung bertimbun-timbun gak keruan.

ada foto pernikahan, di mana semua yang terlibat dalam perhelatan -kedua mempelai, kedua orang tua dan panita yang lain- itu diminta bersikap tertentu di depan kamera, diminta “bermain peran” di depannya.

juga foto wisuda, ketika semua civitas academica termasuk wisudawannya diminta berjalan dengan cara tertentu, berjalan dari dan ke arah tertentu yang kesemuanya agar menghasilkan tampilan yang bagus bagi foto atau video.

juga ketika kita nonton balapan mobil F-1, misalnya, kita bisa mengikuti seluruh track, hal yang mustahil dilakukan oleh mata biasa.

sekarang ini, banyak segi kehidupan kita sudah -dan kadang ingin kita lihat- dengan mata yang sudah diperkaya oleh kemungkinan-kemungkinan yang bisa terlihat oleh mata kamera.

apakah mata kamera tidak menyeleksi pemandangan visual di depannya, seperti halnya mata natural melakukan seleksi? tentu saja mata kamera juga melakukan seleksi. karena toh tidak semua benda dapat “dilihat”nya. benda yang terlalu gelap -misalnya- tidak dilihat. benda yang bergerak cepat, tidak terlihat oleh kamera dengan film ASA 64.

memotret sesuatu di tempat gelap sering tidak berhasil, padahal kita -dengan indera kita yang lain- menyadari bahwa sesuatu itu sungguh-sungguh ada di depannya.

jadi, kamera melakukan seleksi juga seperti mata natural, tapi alat, cara, kriteria yang dipakai untuk menyeleksi itu beda dari mata natural kita.

dulu kita menyebutnya camera obscura [kamar gelap], tapi sekarang kita tidak perlu bergelap-gelapan untuk menghasilkan pemandangan fotografis itu, sekarang segalanya terang benderang. selain karena sekarang kita tidak butuh kamar gelap, juga karena sekarang kita hidup di alam yang disumbang [dalam jumlah besar] oleh teknologi fotografi. dengan sarana itu kita sekarang tinggal di alam [kamar] terang [camera lucida].

mungkin hal ini juga menyadarkan kita, bahwa apa yang kita lihat belum tentu terlihat orang lain. dan sebaliknya, apa yang dilihat orang lain, tidak terlihat oleh kita. dus, berbahagialah yang tidak kecemplung di salah satu lubang itu tapi yang menyadari akan kontribusi keduanya…