Posts Tagged ‘sepeda’

trotoar sebagai tempat berj(u)alan

tragedi trotoar

Menurut bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia, istilah LIMA KAKI merujuk ke JARAK. sedangkan KAKI LIMA merujuk ke nama TEMPAT TERTENTU.
Trotoir, trotoar, di Indonesia sering disebut sebagai Kaki Lima. Dalam arti yang mana sebenarnya jalur untuk pejalan kaki ini dirujukan?

Kaki lima memang bukan jalur pejalan kaki, meski bentuknya mirip pedestrian pathway. Seperti kita tahu, Kaki Lima di indonesia, lebarnya bervariasi. Ada yang hanya 0.6 meter, 1.5 meter, ada pula yang 2.5 atau 3 meter.
Sementara itu, trotoar adalah gagasan yang muncul di masa Barok di Eropa, ketika ada usaha untuk mengatur facade bangunan agar seragam maju-mundurnya. Trotoar ini berupa jalur pejalan kaki yang tidak boleh diisi kegiatan lain.

Di kalangan orang-orang Asia, istilah KAKI LIMA itu bisa merujuk ke macam-macam hal. Menurut Izumida (2005), tabir lipat pemisah dinding di Jepang juga disebut “byobu” atau KAKI LIMA. Demikian pula “modokoro”, yakni kepala perahu juga dinamai KAKI LIMA.
Jadi, agaknya KAKI LIMA itu memang bukan jalur pejalan kaki yang JARAKnya lima kaki, tapi lebih cocok bila dipahami sebagai nama tempat orang Tionghua dan pribumi berdagang dan nongkrong di pinggir jalan.

Orang Tionghua adalah yang pertama dikenali melakukan kegiatan dagang di ruang panjang dengan toko-toko saling berhadapan, di Batavia, di masa VOC. Nieuhof yang menulis laporan di tahun 1682, yang kita ketahui dari tulisan Izumida di atas, melihat itu sebagai “…galleries having shops on each side…and as many doors from without, which are kept open day and night because the shopkeepers don’t put up their commodities till very late at night”. Yang menarik adalah bahwa nama tempat yang berupa lorong panjang itu adalah “KAKI LIMA”.

Barangkali memang ada suatu masa ketika kaki lima itu jaraknya bener-bener lima kaki. Tapi, tidak selalu lebar jalur sebagai perluasan tempat dagang itu selebar lima kaki.
Jadi, kebiasaan untuk mengisi jalur panjang di sisi-sisi jalan dengan aktivitas perdagangan itu memang sudah tua sekali. Sebelum kedatangan Belanda, sudah ada aktivitas serupa yang lestari sampai kini. Baik di Batavia, Singapura, juga kota-kota Asia-Tenggara lainnya.

Pada peralihan abad XIX-XX, ketika kendaraan bermesin mulai masuk jalanan kota, di kota-kota besar macam Surabaya, Batavia dan Semarang memang sudah ada upaya membuat trotoar dalam pengertian jalur pejalan kaki. Di kota yang dihuni dan diatur ala Barat ini sering ada konflik di jalanannya. Trotoar lalu perlu dibuat berhubung banyak sekali kecelakaan terjadi karena perilaku pribumi pejalan kaki di jalanan kota-kota tadi.
Namun upaya membuat trotoar untuk pejalan kaki ini rupanya benar-benar terabaikan setelah merdeka hingga kini, setelah aktivitas ekonomi informal dibiarkan berlangsung di sana, dan trotoar kota-kota tadi kembali dimaknai sebagai Kaki Lima.

Rupanya, kita mencampurkan ide mengenai Kaki Lima sebagai tempat berjalan sekaligus berjualan, dengan ide Arsitektur Barat dari masa Barok tentang trotoar yang hanya boleh untuk sirkulasi jalan kaki itu.

Pada hemat saya, di sinilah masalahnya: kita mengira punya trotoar, padahal tidak. Yang kita punya adalah Kaki lima, tapi bukan trotoar, bukan jalur sirkulasi bagi pejalan kaki. Untuk memperjuangkan adanya jalur pejalan kaki [dan pesepeda] di Yogyakarta, kita seperti berangkat dari nol. Sudah lama sekali Kaki Lima kita itu tidak dipahami sebagai trotoar atau pedestrian pathway.

Pada masa kini, kita telah sadari bahwa jalur sirkulasi di kota kita tidak aman bagi pejalan kaki dan pesepeda. Dua moda pergerakan yang tak bermesin. Kota kita sudah sama dengan kota seluruh dunia, yakni memberi prioritas pada kendaraan bermesin.
Lain dari itu, kita masih ada persoalan lagi, yakni dengan aktivitas ekonomi di ruang sirkulasi kota kita. Tidak hanya di trotoar, namun juga di hampir semua ruang publik kita berlangsung pertarungan kegiatan ekonomi yang tanpa pengaturan. Trotoar hanyalah penggalan cermin dari masyarakat kontemporer kita yang bebas tanpa pengaturan itu.

*ditulis untuk booklet pertunjukan PANTOMIME TROTOAR, taman budaya yogyakarta 30 april 2013.

 

musim sepeda parkir

sudah lama saya tidak bersepeda ke kampus.
sejak musim dingin pertengahan november lalu, saya tidak kuat mendaki bukit dengan sepeda. terlebih setelah lampunya pecah karena sepeda terjatuh dihempas angin kuat di tempat parkirannya. itu berarti saya tidak bisa bersepeda pulang malam harinya. di kota ini bersepeda tanpa lampu sama saja cari repot sendiri. selain jalanan gelap gulita juga nanti bisa ditilang polisi!

bersepeda ke kampus itu jalannya menurun dulu hingga menyeberang sungai, lalu setelah melewati jembatan merahnya, kita mendaki terus hingga sampai ke kampus. kampus ini memang berada di bukit yang konon dipilih karena di situlah tempat teraman bila kota tepi pantai ini dilanda tsunami dari laut pasific di timurnya.
kondisi alam yang berada di tepi laut maha luas itu membuat kota ini selalu menerima terpaan angin kuat. entah angin menuju laut, entah sebaliknya dari laut. dinginnya minta ampun!

pagi ini saya menengok sepeda saya, yang sudah lama saya biarkan begitu saja tersandar di parkiran. matahari pagi cukup hangat, menerpanya dan mempersembahkan bayangan di lantai parkiran.
bulan depan harusnya sudah mulai menghangat. entah bila musim kali ini pun terganggu jadwalnya.
[februari adalah puncak dinginnya kota ini. ketika musim hendak berganti, angin bertiup kuat seraya membawa hawa dinginnya.]

ah, sudah lama saya tidak bersepeda.
saya tunggu matahari cerah kembali.

reparasi dan modifikasi

sepeda saya harus dibawa ke tempat reparasi, yang di kota kecil ini,
hal itu sama saja dengan meminta penjualnya untuk memperbaikinya. pasalnya, di sini tidak dikenal profesi tukang reparasi sepeda, tukang tambal ban dan berbagai servis sejenisnya.
saya harus membawa kembali sepeda itu berasal mula.
toko tempat saya membeli dan mengembalikan ini memang tidak sekadar menjual barang dan suku cadangnya, namun juga memberi pelayanan perbaikan tadi, maintenance, kata orang-proyek.
jadi, di sana ada lengkap berbagai peralatan yang dijual maupun yang dipakai untuk bekerja memperbaiki. suatu “sitem tertutup” yang berlangsung di satu tempat: menjual dan memperbaiki. hal yang berbeda dari tempat kita, di mana penjual dan tukang reparasi bisa berpisah.

sistem tertutup ini dipilih mungkin karena pekerjaan penduduk sudah banyak terserap ke sektor formal. kebanyakan sudah terserap sebagaipekerja kantoran atau pelayanan lain yang lebih memerlukan kecerdasan dan intelektualitas tinggi. saya lihat, di sini para pekerja reparasiini memang orang-orang tua, pensiunan. entah di tempat lain, apakah
ada anak muda yang memilih profesi ini.

di tempat kita, sistem yang dipilih dan cocok adalah sistem terbuka, yang proses distribusi dan maintenancenya boleh dilakukan oleh pihak lain, hal yang memungkinkan modifikasi oleh siapa saja. saya pikir, sistem yang sudah berlangsung di tempat kita itu memberi jaminan bagi berkembang suburnya kreativitas dalam modifikasi kendaraan..
seandainya hal ini dilakukan juga untuk kendaraan, atau mesin dan peralatan lain, tentunya akan ada harapan ditemukannya modifikasi2 baru yang jauh lebih kaya dari pada aslinya. apakah itu sudah terjadi?

sepeda saya bikinan cina, demikian pulalah kebanyakan sepeda orang sini adalah bikinan cina. karena itu maka toko itu pun ibarat “simpul” distribusi produk yang berkaitan dengan sepeda asal cina tadi. seperti halnya di tempat kita, sepeda motor dan mobil tertentu memiliki dealer berikut tempat servicenya.

pada hemat saya, di tempat kita sudah memilih dengan benar sikapnya terhadap barang import. membiarkan partisipasi masyarakat untuk ambil bagian dalam perbaikan [dan modifikasi!]. hal yang bisa ditarik lebih luas ke barang lain, produk lain, suatu taman keanekaragaman dan berbagai modifikasi..

jangan menanyakan lagi mana “yang asli”!

biar lambat asal nikmat

bersepeda itu berbeda dari bersepeda motor, seorang rekan memberi nasihat.
ada kepentingan yang berbeda dari kedua moda kendaraan tadi.
bukan yang kemudian menyempurnakan yang pertama.
sepeda motor memang mempercepat perpindahan, tapi perpindahan yang meminimalkan partisipasi energi kita, karena kita menggunakan energi bensin untuk menggantikannya.
lain dari itu,
“kelambatan” sebagai lawan dari kecepatan, sebenarnya  juga punya kualitas. buktinya, banyak orang masih mempertahankan bersepeda meski pun dia bisa saja membeli sarana untuk mempercepat pergerakannya.
lambatnya kecepatan bersepeda bila dibandingkan dengan sepeda motor, punya berkah tersendiri, mana kala kita menyusuri jalanan kota yang jalanannya kontinu ini. dengan kontinu yang saya maksudkan adalah tidak terputus-putus oleh lubang jalanan atau oleh macam-macam hambatan.
ada pengalaman ruang yang tidak  putus-putus juga. misalnya kita mengambil waktu start pagi dan pulang siang, maka sudut-sudut kota bisa kita nikmati sambil menikmati juga perubahan waktu dan mungkin juga suhu udara yang mengenai tubuh kita.
roda, suatu temuan revolusioner itu, diberi kebebasan oleh sepeda dalam menggelindingkan kita menyusuri ruang dan waktu kota. suatu proses yang langsung terkena pada tubuh. proses yang bukan sekadar pindah lokasi tapi suatu peralihan situasi-situasi.
di situ, tubuh kita ikut ambil bagian.
bila jalan mendaki, engahan nafas menyertai perpindahan lokasi. demikian pula sebaliknya bila meluncur turun, perasaan seperti terayun bisa dinikmati…
saya sedang menikmati inovasi kendaraan beroda ganda ini. berkah luar biasa bagi kemanusiaan…

Posted via email from lihatlah

menambal kebocoran

dulu, ketika sepeda pemberian salah seorang teman itu bocor bannya, saya menyerah pilih beli sepeda baru tapi bekas, dari pada beli ban dalam dan minta tolong memasangkan ke tukang. ongkos tukang berikut ban dalam itu sendiri hampir sama dengan harga sepeda baru tapi bekas tadi.

tapi sekarang,
setelah mengalami kebocoran ban lagi, ada teman lain yang meyarankan agar ditambal sendiri saja. haah..?

iya, beli saja perlengkapan tambal ban di toko 100 yen itu

[di sini memang ada toko yang menjual segala macam barang dengan harga sama: 100 yen untuk masing-masing item, dan umumnya bikinan cina]. saya pengen mencobanya. dan memang benar, ada yang menjual satu set perlengkapan tambal ban yang isinya antara lain:
  • lem satu tube
  • ban penambal ada beberapa dengan berbagai bentuk: bundar, persegi, persegi memanjang.
  • dua buah pengungkit
  • parut, utk mengasarkan permukaan ban yg akan ditambal
  • beberapa pentil [ini pengindonesiaan kata ventil, katup karet]
  • beberapa penutup pentil.

karena sepeda di sini umumnya juga bikinan cina, maka peralatan tadi pun klop semua. dengan mudah saya membuka ban, merambangnya di air untuk mencari titik kebocorannya, memarut dan menempelkan tambalan ban tadi. semuanya selesai tidak lebih dari 15 menit. praktis, murah dan tidak merepotkan orang lain.

saya bayangkan, bila masing-masig pengendara sepeda memperlengkapi diri dengan peralatan seperti tadi, maka bersepeda jadi lebih menyenangkan. sistem yang bekerja pada sepeda itu terbuka, bisa diperbaiki siapa saja, tidak membutuhkan keahlian khusus.
memang, yang saya bicarakan ini adalah sepeda yang bukan sarana mejeng yang dipenuhi aksesori kenangan. tapi sepeda yang memang digunakan untuk kerja produksi sehingga tuntutan kepraktisannya harus tinggi, ada standarisasi antara sepeda dengan peralatan yang digunakan memeliharanya,
sekarang saya tidak takut lagi bila ban sepeda bocor, sementara tidak ada satu pun tukang tambal ban di sini.
lha, konyolnya, ndilalah… tadi sore ban sepeda saya bocor lagi…
wooo…gombal tenan!

Posted via email from lihatlah

1 2