Posts Tagged ‘sepeda’

kemana mereka pergi?

pertanyaan retorik tadi mengingatkan saya pada lagu simon & garfunkelwhere have all the flowers gone
bedanya,
foto-foto dari album mas teguh ini tidak mengeluh. tidak meratapi kepergian sesuatu atau seseorang yang tanpa kembali. karena yang ditampilkan adalah foto-foto pekerja yang esok berangkat bersepeda ke kota dan pulang sore harinya ke desa. suatu proses ngalaju yang terjadi ketika kota berkembang meninggalkan desa dan tidak lagi seiring berkembang bersama. kota menyedot desa dan desa yang ditinggalkannya seolah mendorong anak-anak mudanya keluar ke kota besar.

seperti kita tahu, jalanan di jawa sudah sejak daendells diatur agar menghubungkan kota dengan jarak kelipatan dari 15km. jadi, kira-kira para pelaju itu tiap hari menyusuri sekitar 15 sampai 30km. apakah kerja keras itu sepadan dengan peningkatan kualitas hidupnya?
mungkin tidak, bila diukur dari perubahan barang-barang kepemilikan. bajunya dan segenap busana yang melekat di tubuhnya ya tetap itu saja, peringkat profesinya juga itu-itu saja, tidak meningkat jadi manager, misalnya. dan yang jelas mereka tidak mengubah modus transportasinya dari sepeda ke sepeda motor atau ke mobil. kerja kerasnya tetap melestarikan yang ia sudah punya.
tapi, bisa jadi ya, bila memang orang-orang itu menanam investasi kultural dalam mentalitas anak-anaknya. beberapa dari antara pelaju itu saya tahu punya anak yang sudah jadi orang di kota-kota besar.
orang tua ini hanya menjalani suatu prinsip hidup bersahaja yang harus dengan konsekuen dia jalani, agar menjadi kesaksian anak-anaknya. anak-anaknya tetap tumbuh sambil punya pegangan yang ia bisa lihat dalam diri orang tuanya yang tiap pagi dan sore bersepeda pergi pulang menyusuri jalanan aspal desa-kota.

petani jawa, dari mana ia bisa melakukan mobilitas vertikal kalau tidak dengan mengubah modal kultural yang ia punya menjadi modal yang lain? mereka punya nilai yang diwarisi dari leluhurnya, bahwa prihatin itu musti dilakoni, di jalani secara konsekuen. warisan itu yang dilakoni. apakah tidak menghidupi? apakah tidak mengubah kuallitas hidupnya?

mereka, sebagaimana leluhurnya para petani, rupanya sedang menanam investasi.

di jalanan desa-kota, orang tua saya pun pernah menjalani proses serupa!

Posted via email from lihatlah’s posterous

meringankan badan

sepeda yang saya pakai sekarang ini bikinan cina. sudah tiga hari ini saya pakai pergi-pulang ke kampus.
sejak kali pertama naik, sepeda ini sudah menarik: terasa ringan, baik ketika diangkat jinjing maupun ketika digenjot untuk jalan mendaki. terima kasih untuk mas tikno yang melungsurkan sepeda bikinan cina ini ke saya.

hari pertama itu pun saya pakai untuk pulang bersama seorang mahasiswi dari cina, yang hanya dengan sweater menggenjot sepeda berjalan di depan saya di tengah hawa dingin dan angin kuat dari arah depan. dia bilang, kotanya di cina sana lebih dingin lagi dibanding toyohashi ini. edun! mungkin itu karena dia masih muda, lebih kuat dari saya yang sudah tua yang dengan jaket tahan angin masih dilapis dua baju di dalamnya.

sepeda punya kawan saya itu pun lungsuran, sepeda lawas, sama seperti sepeda saya. sama-sama sepeda yang ringan tapi kuat (buktinya, sepeda ini sudah berpindah tangan berkali-kali dari mahasiswa satu ke yang lain dengan perlakuan yang kurang lebih sama: brak-bruk). sepeda bikinan cina ternyata bagus, berbeda dari kesan ketika saya di yogya yang menganggap sepeda belanda lebih bagus dari pada cina.

ringan dan kuat adalah kriteria baru yang saya pakai sekarang. kriteria yang menguasai saya, baik ketika harus menyortir barang-barang ketika dimasukkan bagasi pesawat, ketika memilih komputer yang mudah saya bawa kemana-mana, ketika memilih bahan pakaian, menerapkan diet untuk menguruskan badan, memilih makanan, memilih e-book dari pada print-book… semuanya karena kriteria ringan tapi kuat tadi.

sepeda pantang mundur

sepeda itu jalannya pantang mundur.
cocok sekali dengan alam pikiran orang modern yang progresif:
meninggalkan yang sudah dan menyambut yang ada di depan mata.

dan cocok pula dengan kepala dan badan kita yang meletakkan sebagian besar indera  di sisi mukanya dan nyaris tidak menempatkan alat-alat pendeteksi itu di belakangnya. artinya, perilaku berjalannya sepeda itu mirip dan sudah disesuaikan dengan keadaan badan dalam menanggapi ruang: memisahkan antara muka dari belakang dan -lebih dari sekadar memisahkan- juga berpihak pada muka dari pada belakang.

sepeda itu jalannya pantang mundur, terlebih-lebih sepeda saya, yang bila dikayuh ke belakang malah seperti menginjak rem berhenti. hal yang -mungkin- menerbitkan kerinduan saya pada masa lalu. serasa ada yang kurang bila hanya berjalan ke depan.

sayang, sepeda saya tidak punya cermin spion, sehingga kerinduan reflektif itu tidak bisa terselenggara bila saya naik sepeda. lain dari itu, sepeda ini juga akan wagu bila dipasangi cermin spion seperti itu.

jadi, baiklah,
saya terima saja keadaan kendaraan ini, yang karena kodratnya meminta saya untuk tetap berjalan, pantang berhenti, dan berjalannya ke depan karena sudah cocok dengan keadaan badan.
bila saya nekad mengayuh ke belakang maka perjalanan ini akan berhenti dan keseimbangan badan akan hilang.
di masa modern ini, mungkin inilah yang cocok dilakukan.

cekluk…cekluk…cekluk

sepeda onthel saya

sepeda onthel saya ini sudah berumur tua.
sejak dua hari ini kayuhan pedal di kanan memperdengarkan bunyi cekluk…cekluk… yang menandakan perlu dilakukan ‘adjustment’ atau penyesuaian di sekitar baut-bautnya.

ini sepeda kayaknya lebih tua dari pada usia saya sendiri, entahlah. penjualnya tidak menyediakan data historis untuk meladeni pertanyaan mengenai usianya. tidak penting benar memuja-muja ketuaan suatu benda.
yang jelas -dan ini menariknya- oleh pemilik sebelum saya, sepeda ini sudah dirawat dengan baik. dirakit dengan beberapa alat tambahan agar berfungsi dengan lebih pas bagi dia. ukuran-ukuran sadelnya pun sudah disesuaikan lebar dan tingginya. juga dibikin mengkilat dengan dismeer tanpa harus dicat ulang. alhasil, sepeda ini masih ada menyisakan ketuaannya, namun juga memperlihatkan kebaruannya.

rekan saya tadi menemukan dan membeli sepeda yang sekarang milik saya ini juga dalam keadaan yang tidak utuh. intervensi dialah yang ‘mengutuhkan’nya agar cocok untuk keperluan dia. yang dia maksud ‘utuh’ adalah ‘cocok’ dengan kondisi dia.

dalam arti itu, sepeda saya ini memang sudah tidak ‘original’ lagi, bila istilah original itu dipahami sebagai ‘yang muncrat dari sumber’nya mula-mula. sebaliknya, sepeda saya ini senantiasa berubah dicocokkan dengan kondisi penggunanya. bagi para pemuja originalitas, sepeda pemberian teman saya ini dianggap kurang berharga lagi. tidak asli.

namun, saya bukan pemuja originalitas.
barang-barang di rumah saya hampir 80 persen adalah barang bekas, lungsuran atau penyesuaian dari sanak-saudara, yang dengan sedikit [atau banyak] intervensi menjadi ‘baru’. sudah sejak lama saya tinggal dalam lingkungan yang ambigu itu: antara yang baru dan yang lama. oleh sebab itu, waktu -dalam lingkungan saya- seolah berjalan kontinu, tidak putus-putus.
nah,
justru dalam kesadaran itulah, dalam lingkungan yang tidak bisa ditarik garis tegas antara ‘yang baru’ dengan ‘yang lama’ itulah ada kebutuhan untuk menandai momen-momen perubahan yang blabur, samar-samar, dan yang tidak hitam-putih [ingat, saya tinggal di dalam lingkungan dan dikitari benda-benda ambigu seperti itu].

pagi ini,
seperti sejak dua hari lalu, sepeda saya menyuarakan tanda-tanda itu. tanda-tanda yang mengisyaratkan perlunya intervensi saya padanya, intervensi untuk merawatnya, memberinya perhatian agar dia masih bisa melangsungkan kehidupannya.

itu lebih penting dari pada memuja ketuaannya.

cekluk…cekluk…cekluk…

iter nostrum protege

kemaren saya ikut keliling wisata ziarah ke plered.
mungkin begitulah tepatnya kegiatan minggu pagi itu disebut.
bersepeda onthel mengitari perumahan sendiri, lalu menyeberang jalan wonosari, ke utara hingga ke desa-desa yang namanya hampir semua menggunakan nama tirta, sendang,  yang memerlihatkan bahwa desa-desa itu memang kaya dengan air. mungkin di masa lalu memang ada sumber air di situ, yang sekarang terlindung oleh kebun-kebun tebu…

perjalanan di atas jalanan mulus menembusi sawah dan kebun tebu itu dilanjutkan hingga ke kawasan prambanan dan bukit baka. dengan selamat kami melaju terus ke selatan menyusuri perbukitan kapur piyungan hingga masuk ke wilayah plered. persinggahan yang sudah disepakati di antara para pengonthel ini: makan soto di warung mbak nunuk, plered.

jalur itu sudah pernah saya susuri.
tapi, kali ini saya menggunakan sepeda, tidak lagi sepeda motor.
kecepatan orang bersepeda memberi berkah pemandangan yang lebih lama untuk dinikmati. tidak bergegas cepat seperti ketika naik motor.
kami juga sempat untuk membacai macam-macam pengumuman, poster-poster, grafiti, nama-nama gang, nama desa dan dusun… lebih lama melihat reaksi wajah-wajah ramah orang-orang perdesaan.
bersepeda, dengan kecepatannya yang sedemikian, memberikan lanskap yang lebih lengkap mengenai dunia sekitar saya sendiri.

ini mirip orang yang sedang berziarah.
menjalani proses perjalanan yang untuk sampai ke tujuan haruslah melalui tahap-tahap pendahuluannya. tahap-tahap yang tidak bisa diabaikan, atau dilewati tanpa interaksi.
ziarah itu mengandaikan adanya penghayatan sedang berproses, penghayatan bahwa ia sedang berada dalam tindakan berjalan.
bisa dimaklumi bila dulu di eropa, kegiatan ziarah menuju roma atau menuju tempat-tempat suci lain, jalur perjalanan para peziarah itu melahirkan kota-kota baru. permukiman-permukiman baru.
tempat-tempat itu memang adalah tempat-tempat interaksi, tempat menunggu, berteduh, beristirahat, berjumpa dengan para peziarah lain sehingga lama-lama menjadi juga tempat menetap.

berziarah bukanlah berjalan agar cepat-cepat sampai tujuan, tapi berjalan mencapai tujuan dengan menghayati proses perjalanannya itu sendiri.

kami bersyukur bisa pulang dengan selamat, tapi itu tidak terlalu penting, karena kami yakin pasti bisa pulang dengan selamat. yang lebih penting adalah bahwa kami sudah menyusuri pagi cerah, di kawasan yang bersawah-sawah dengan udara segar.

di desa gergunung [tahu artinya? ini dari kata pager gunung] , suatu desa di tepian pegunungan selatan jawa [lihatlah, bagaimana nama ini langsung menunjukkan realitasnya], kami berhenti sebentar, karena keliru memilih jalan. pak djoni membetulkan bel sepedanya yang ada dua itu.

tapi yang menarik perhatian saya justru tulisan dan gambar pada bel sepeda itu: Sancte Christophore – Iter Nostrum Protege, dengan gambar orang kuat sedang memanggul anak kecil.

saya merasa mengenali gambar ini.
gambar ini adalah gambar yang sangat dikenal oleh para peziarah, yakni gambar orang kuat yang sedang memanggul kanak-kanak yesus kristus seolah melindunginya [christophorus = pemanggul kristus]. santo kristofer, lebih sering saya kenal dengan nama demikian, adalah orang kuat itu. beliau kemudian dijadikan santo pelindung bagi para peziarah. bagi para pengelana…

Sancte Christophore – Iter Nostrum Protege.

memang, santo kristofer, melindungi perjalanan kami.

amen!

1 2