Posts Tagged ‘takpala’

tektonika arsitektur

ada rekan yang ingin membicarakan arsitektur tektonik.
keinginan itu perlu diluruskan. mungkin yang hendak dilakukan adalah membicarakan arsitektur dari aspek tektoniknya, segi bangun-membangunnya. karena kita tahu bahwa arsitektur bisa dibicarakan dari berbagai jurusan. jadi, rasanya kita hendak membicarakan aspek tektonika dari arsitektur.

apakah pembicaraan dari arah ini bakalan produktif?
kenneth frampton sudah memulainya, dengan melanjutkan yang sudah dikerjakan oleh harry mallgrave dan semper. apakah kita hendak menguji cara memandang ini untuk kasus tertentu di nusantara? bukankah sudah pernah dikerjakan oleh seminar arsitektur islam di UII tempo hari?

arsitektur ada hubungannya dengan bangunan.
malahan, seringkali arsitektur disebut sebagai bangunan, atau disanjung secara lebi spesifik sebagai seni bangunan atau ilmu bangunan [bouwkunst, bouwkunde]. penyebutan ini dilatari oleh kesadaran bahwa arsitektur adalah perihal membangun, menegakkan suatu struktur dari rangkaian unsur-unsurnya yang lebih kecil.

bangunan sebagaimana kita pahami seperti itu tidak ada di alam. bangunan adalah struktur yang diadakan oleh dengan manusia dengan seni atau ketrampilan [artes] yang ia peroleh dari proses belajar, atau dari proses kultural.
suatu bangunan disebut bangun kalau dia tegak di atas bumi di bawah langit, mengalahkan gravitasi yang cenderung merebahkannya. oleh sebab itu kemampuan membikin tegak struktur rangkaian ini merupakan prestasi tersendiri bagi manusia pembuatnya. ini adalah prestasi kultural bagi manusia.

tapi yang kita maksud dengan pembicaraan kita kali ini bukanlah bagaimana agar struktur itu tegak melainkan bagaimana menampilkan ekspresi tektonik dalam karya arsitektur.  menampilkan arsitektur secara jujur sebagai suatu struktur yang dirangkai dari unsur-unsurnya.

kita tidak membicarakan perihal konstruksi atau penerapan ilmu statika dalam bangunan, namun lebih pada ajakan perlunya mengekspresikan karya arsitektur sebagai sebagai sebuah bangunan, rangkaian, yang ditegakkan di muka bumi. jadi, karena ini masalah ekspresi estetik maka perkara ini masuk ke dalam ranah disain katimbang struktur-konstruksi.

banyak arsitektur tampil tanpa kejelasan riwayatnya. tidak terekspresikan dari bahan apa dia dirangkai, dengan prosedur macam apa bahan itu menjadi struktur besar yang bisa menampung aktivitas manusia.

mengenai ‘bahan’, pada hemat saya, ini bisalah diperluas tidak hanya dari substansi materialnya -dari batu, kayu, besi dan sebagainya- pembicaraan mengenai bahan ini bisa diperluas dengan melibatkan bidang, garis, titik, volume yang disusun dan diperlihatkan prosedur penyusunannya dalam bentuk akhir arsitekturalnya.

mengungkapkan secara sadar dengan proses bagaimana unsur-unsur disusun mengingatkan kita pada tuntutan nieuwe zakelijkheid dari para arsitek modern. ada kelugasan dan keterusterangan yang dituntut agar tampil dalam karya arsitektur. bila bangunan ini dari batu, ungkapkan segenap karakter batunya. bila dari kayu, nampakkanlah segenap ciri tekstur, kekuatan, ketahanan dari kayu tsb. bila dari bata, perlihatkanlah segenap ‘kebataan’ atau segenap kualitas yang terkandung dari bahan bata tsb.

landasan dari gagasan ini cukup romantis, kenneth frampton mencarinya ke tema-tema pemikiran heidegger, misalnya tentang gathering, a-letheia, dwelling …

[dalam ulasannya tentang a-letheia, heidegger memperluas makna ‘benar’ atau ‘kebenaran’ sebagaimana sering orang menerjemahkan bahasa gerika tadi, dengan mengartikannya sebagai ‘penyingkapan’. sehingga kebenaran tercapai bila ada penyingkapan. bila selubung itu dilucuti.]

dalam perspektif tektonika, arsitektur diminta untuk jujur, untuk tidak melulu mengejar bentuk dengan segala cara, alih-alih menghasilkan bentuk yang jujur menampilkan segenap kualitas yang ada dalam bahan penyusunnya habis-habisan.

mengapa demikian? karena bila bentuk itu ‘benar’ maka ia indah.

bukankah kata terakhir ini sering diulang-ulang oleh rama mangun?

gempa di rumah gudang

martinus berkisah mengenai rumahnya yang dilanda gempa tahun 2004 silam. menurut berita memang seluruh alor bergoyang. juga rumah-rumah di takpala. ada pula yang roboh, teronggok ke bawah, mendarat di tanah tanpa dapat disangga oleh keempat tiang utamanya.

rumah di takpala adalah rumah panggung dengan empat atau enam tiang. keempat tiang utama dari ‘kayu merah’ berdiameter sekitar 30cm ini ditanam ke dalam tanah sedalam 100-150cm. bagian tiang yang terbenam di dalam tanah tadi diletakkan di atas batu lempeng di dasar sumurnya dan sumur itu ditimbuni batu-batu melulu. tidak boleh ada tanah tercampur dalam timbunan batu yang memegangi kaki tiang ini.

keempat tiang itu sebenarnya deretan 2 portal sejajar dengan jarak antar tiang kita-kira satu depa. atau bila rumah itu terdiri dari 6 tiang, maka masing-masing portal itu berkaki 3 [eh, masihkah ini bisa disebut sebagai portal?]

keempat tiang ini menerus ke atas dan sebagai portal memiliki lintel atau balok di puncak-puncaknya yang menghubungkan dengan tiang portal satunya. balok ini disebut been dalam bahasa setempat, berdiameter sekitar 15cm. been ini menganjur di ujung-ujungnya sehingga menciptakan semacam kantilever sejauh sedepa, dan ditusuk serta ditopang oleh dua tiangnya. pertemuan been dengan tiang ini diikat dengan tali yang diambil serta diawetkan dari tanaman rambat yang sudah ada di kebun mereka. pada tiang utama di ujung dekat pertemuannya dengan been itu dipasang papan kayu setebal 3jari lelaki dan berukuran sekitar 2×3 jengkal tangan. namanya dulang. selain untuk menjebak tikus agar tidak naik ke rumah juga mampu menahan rumah bila rumah tergoyang karena gempa. been adalah balok utama rumah, yang padanya diikatkan batang-batang bambu sebagai kerangka atapnya mengeliling serupa piramida.

ruang berupa piramida itulah sesungguhnya rumah bagi orang takpala. di dalamnya tersimpan segala-gala: baik orang maupun barang-barang berharga. di situ perempuan dan anak-anak tidur, memasak makanan maupun melakukan berbagaikegiatan privat lainnya. rumah ini disebut sebagai ‘rumah gudang’ karena memang hanya dalam struktur inilah orang alor bisa menyimpan barang sekaligus orang. rumah biasa hanya berupa kamar-kamar yang jarang membuatkan gudang.

sedangkan platform di bawahnya adalah ruang semi publik untuk para pria dalam menjaga rumah mereka sebgaimana balai yang dikenal oleh orang-orang austronesia.

rumah ini pernah miring digoyang gempa tektonik, tapi sekarang sudah diluruskan lagi. dan meski tiap kali anak-anaknya tidur terasa “gempa” yang dia bikin sendiri bersama istri, rumah itu tetap stabil. sampai kini.

sirih pinang

orang jawa, khususnya di daerah surakarta dan sekitarnya, punya sinonim bagi sirih. nama yang dikenakan pada tanaman merambat yang berkhasiat antiseptik [pembunuh kuman] ini juga dikenal di daerah itu dengan nama sedhah. mungkin kata ini diambil dari bahasa jawa kuna, yang selain menjadi sinonim dari sirih atau suruh, juga kata sedhah ini bermakna undangan. tidak heran bila kartu undangan -pernikahan, misalnya- di surakarta biasa ditulis sebagai sedhahan. dan pengantin surakarta memiliki acara saling melempar gulungan daun sirih, sebagai simbolisasi dari tindakan saling mengundang di antara kedua pengantin untuk hidup bersama.

saya yang besar dalam tradisi kultur surakarta, bisa dengan sangat mudah menerima sodoran sirih dan pinang di tangan bapa timoteus, sebagai simbol undangan ketika saya mampir di rumahnya di takpala, alor. saya seperti diundang dengan undangan tanpa kata ketika disodori sirih-pinang dan kapur dari wadahnya yang berupa anyaman halus bilah-bilah bambu itu.

[di rumah, saya menanam sirih ini, dan tumbuh menjalar-jalar dengan daun yang mekar segar sehingga hampir tiap hari ada saja ibu-ibu tetangga yang meminta selembar dua untuk kepentingan mereka.]

tapi, di takpala -juga di sumba- sirih tidak diambil daunnya, tapi buahnya. di jawa, bila kami membutuhkan sirih untuk obat batuk atau untuk membersihkan tenggorokan yang kering di musim kemarau seperti sekarang ini, kami ambil daunnya. direbus atau direndam dalam air panas dan diminum airnya. tapi di alor sirih itu diambil buahnya, dikunyah bersama pinang dan kapur dan kadang-kadang dijejali tembakau untuk dihisap-hisap sehingga menghasilkan perasaan segar di mulut [dan lidah terasa tebal!]. buah sirih ini bisa disajikan ketika masih segar, bisa juga ketika kering. efeknya -menurut saya- sama saja. hal yang tidak bisa terjadi pada daun sirih yang selalu meminta yang masih segar saja.

ke mana-mana orang membawa sirih pinang. untuk sendiri maupun untuk dibagi.
ini adalah semacam sarana komunikasi untuk saling mengundang [juga saling meminang? halah..]

berbincang lama dengan timoteus lanma

orangnya sedang tidur siang, ketika saya menghampiri pondoknya di takpala. pondok itu berupa rumah panggung beruang tunggal. berdinding gedeg dengan atap alang yang puncaknya diikat menjulang. berbagai perlengkapan lelaki abui berserak di sekitar tempat tidurnya: perlengkapan sirih pinang, panah dan busurnya, parang, kain-kain ikat yang dijadikan selimut di ruang yang terbuka di satu sisinya itu.

melewati satu gubug lagi [yang digunakan untuk tidur dorkas, putrinya] kami diterima di serambi rumah gudang, rumah adatnya. mama amalia yang lebih dulu menjumpai kami ketika kami masuk desa ini memperkenalkan kepada tetua adat ini sambil menerima bungkusan sirih pinang yang kami bawa dari kalabahi.

[sebenarnya, bibir saya masih merah sehabis makan sirih pinang di kalabahi tadi, tapi di depan bapa timo ini saya harus makan lagi sebagai kesediaan menerima sambutan tuan rumah. makin merahlah bibir, gigi dan lidah…]

ada kopi enak disajikan, bersama goreng pisang, dan kami lalu bicara mengenai subsistensi [halah, ini mah istilah saya saja!]. dan dorkas menerangkan keistimewaan kopi tadi ketika kami termehek-mehek dengan aroma yang menebar dari gelas minum tadi:

kami tidak pernah membeli kopi di pasar. ini kopi dari kebun sendiri, yang setelah dikupas, dikeringkan lalu kami goreng dengan sedikit minyak supaya tidak hangus. para peneliti asing itu juga bilang bahwa kopi sini enak..

tidak hanya kopi, namun juga tembakau. di halaman rumah itu ada sepetak ukuran 4×4 meter yang ditanam tembakau, bercampur dengan makam dari beberapa orang desa yang telah meninggal. terlihat tanda salib tertancap di atasnya. sayang saya tidak merokok sehingga tidak bisa memberi komentar mengenai mutu tembakaunya.

ini bulan kami biasanya membangun dan memerbaiki rumah. apalagi ini adalah saat bulan terang. orang takpala memerbaiki merangkai, menyusun dan memerbaiki atap alang rumahnya di malam bulan terang. tidak di siang hari yang selain panas juga tali pengikat [makiling:tali dari hutan, sejenis tumbuhan merambat di tanah dan di pohon] mudah putus…

bulan juli dan agustus adalah bulan bagi orang takpala untuk “potong kebun”, yakni memotong bambu untuk disimpan bagi keperluan pembuatan alat-alat rumah tangga maupun untuk konstruksi rumah mereka. bulan oktober nanti adalah bulan untuk “bakar kebun” agar carbon hasil pembakaran itu meresap dan menjadi pupuk bagi tanah kebunnya.

tidak terasa sudah lama saya ngobrol dengan bapa lanma. mengenai berbagai jenis kegiatan yang dilakukan menurut jadwal, menurut pengaturan waktu yang disepakati warga desa takpala. dalam setahun sudah ada kegiatan yang pasti mereka kerjakan secara bersama-sama.

sore jelang malam, saya pamit dari kampung tanpa listrik ini. menyusuri jalan berbatu yang diterangi bulan terang, saya lama-lama merasa rindu. rindu pada ketertiban waktu. ketertiban yang bisa menjadi pegangan bersama…

memang, ini romantisme!

welkom, welcome… dan industri wisata..

saya ke desa takpala tidak untuk berwisata. ini sekadar “mampir minum”, yang dalam kiasan jawa dimaknai sebagai kegiatan yang hanya berlangsung sebentar. karena itu saya lebih banyak ngobrol dengan penduduk desanya. begitu banyak perbedaan di antara kami, justru ketika kami bisa menjalin hubungan yang didasarkan kesamaan sarana komunikasinya: bahasa indonesia.

bahasa indonesia menjadi penyatu kami. di pulau kecil dengan lebih 25-an bahasa daerah setempat. dan di takpala, saya belajar mengenal kata-kata dari bahasa abui mereka [saya baru tahu kemudian, setelah pulang dari takpala, bahwa bahasa ini sudah pernah diteliti orang. paling tidak, sudah terbit buku kamus dan juga disertasi dari frantisek kratochvil yang dipertahankan di universitas leiden, 2007]. bahasa indonesia rupanya benar-benar berguna di sini, jauh lebih berguna dari pada di ibu kota sana di mana bahasa ini digunakan semau-mau penggunanya.

[rasanya, bangsa indonesia ini memang sedang berproses. dan kontribusi bahasa persatuan ini sedang menempuh proses konsolidasi dengan kecepatan berbeda-beda, sementara sudah ada intrusi bahasa asing yang diterima dengan ramah oleh para elitenya.]

dan yang menuntun kami adalah para penutur asli bahasa abui ini: bapa timoteus lanma, simson padama, martinus, dan para istri mereka yang nama-namanya juga terdapat dalam buku kamus susunan kratochvil tadi.

orang takpala sudah sering menerima tamu asing. ada yang berbulan-bulan tinggal di salah satu atau beberapa dari rumah gudang mereka [begitulah mereka menyebut rumah adat panggung mereka itu]. dan sehingga tentunya mereka pun sudah kenal istilah-istilah asing yang dibawa ke dusun mereka.

dari foto-foto yang disediakan oleh situs ascencionatsea nampaklah bahwa dusun sepi yang saya datangi itu kadang-kadang bisa seramai sebagaimana ditunjukkan oleh foto-foto di situs pariwisata tadi. ada masanya desa itu ramai dan pertukaran berbagai bahasa dimungkinkan.

tapi tidak, orang takpala yang ramah-ramah ini jarang yang memraktikkan bahasa asing yang mereka kenal. paling tidak, itulah kesan saya dua hari di sana. mereka masih terkurung dalam kultur mereka sendiri, dalam keasliannya.

sebagaimana keinginan para turis yang datang dari tempat-tempat yang jauh… yang menginginkan agar orang-orang itu jangan berubah. tetaplah seperti aslinya. atau lebih tepat: tetaplah seperti yang kami [turis] kehendaki!

1 2