Posts Tagged ‘timor’

ampupu

ini adalah nama kayu paling banyak digunakan orang timor untuk bahan membuat rumah bulatnya. tergolong sebagai kayu eucalyptus, kayu ini banyak terdapat di timor barat hingga ke timor leste.

selain digunakan untuk rangka bangunan, batang kayu ini -yang berukuran besar- bisa dibelah menjadi dua dan setelah dihilangkan isinya maka bentuk setengah tabung itu bisa digunakan untuk penutup bubungan atap rumah bulat. menurut orang-orang di fatmnasi, penutup bubungan yang menggunakan kayu ampupu ini lebih baik dari pada hanya menganyam alang-alang di bubungan itu. anyaman alang-alang masih bisa tertembus air bocor.

kayu ini hanya diletakkan begitu saja di bubungan. ia menjepit alang-alang penutup bubungan sehingga tidak memungkinkan air hujan merembes bocor ke dalam rumah. peletakannya lateral terhadap arah angin, atau pada umumnya diletakkan sesumbu dengan entrance [pintu] rumah. untuk menghindari terlontar karena tekanan angin barat/timur yang pada musim-musim tertentu amat kuat. dengan alasan yang sama, pintu rumah bulat umumnya berada di selatan atau utara.

ketakutan di tanah kering

majapahit konon sudah menyebut batas-batas kontrol negaranya hingga jauh ke kepulauan di timur.  dan nagarakretagama juga menyebutkan bahwa majapahit melakukan hubungan perdagangan dengan penduduk pulau di ujung timur kekuasaan kontrolnya itu.

konon -demikian mengikuti david boyce yang menulis tentang sejarah dan kebudayaan timor-, dari istilah “timur” itulah pulau itu mendapatkan namanya: timor. jadi, nama timor bukan berasal dari bahasa latin timore, yang berarti takut, tapi berasal dari posisinya yang berada di ujung timur kontrol negara majapahit.

penduduknya sendiri menyebutnya sebagai tanah kering, atau dalam bahasa setempat –dawan– disebut pah meto. nama yang lebih otentik karena langsung menunjuk pada keadaan fisik yang  tergelar di depan mata.

tapi, meski pun disebut sebagai tanah kering, negarakretagama menyebut pulau ini sebagai penghasil kayu cendana. bahkan inspektur perdagangan kekaisaran cina chau ju kua mencatat bahwa pulau ini “berbukit-bukit dan semuanya diliputi oleh hutan lebat yang penuh oleh kayu cendana”.

tapi kayu cendana timor sudah langka di akhir tahun 2008.  tidak mudah lagi melihatnya. tidak terbayangkan bahwa pernah ada orang menulis pulau itu sebagai diliputi oleh hutan kayu cendana. menurut cerita beberapa orang tua di fatumnasi, dulu banyak memang kayu itu tapi kemudian banyak ditebang dan dijual keluar pulau.

tanah kering yang menghasilkan kapur pualam itu pun mempertontonkan industri baru yang lagi marak: marmer! bukit-bukit diledakkan dan digerogoti, digergaji menjadi lempengan-lempengan marmer untuk dijual keluar pulau.

di desa terpencil itu orang-orang desa tidak merasa takut. karena mereka sudah tidak punya daya untuk melawan usaha orang-orang yang akan mengubah tanah kering mereka menjadi komoditas untuk dijual keluar. justru mungkin hanya orang-orang luar seperti saya inilah yang merasa takut, bahwa kelak pulau di ujung timur negeri ini pun akan tergadaikan seperti petani di jawa yang sudah terusir dari tanah-tanah milik mereka sendiri.

saya jadi teringat syair lagu leo kristi yang melihat pesta panen tebu:

“…roda lori berputar-putar,
siang-malam…
tapi bukan kami punya”

lopo

di fatumnasi hanya satu lopo yang saya jumpai. didirikan di tepi jalan dan sekarang difungsikan sebagai halte angkot. karena fungsi itu maka peninggian lantai tidak dilakukan untuk memudahkan pergerakan orang dari dan ke angkot-lopo

lopo adalah salah satu tipe bangunan khas timor. hanya karena struktur semi publik ini terbuka tanpa dinding, maka di daerah yang sedingin fatumnasi tidak banyak struktur ini dijumpai. dan di hari itu, seharian tidak ada satu pun orang terlihat berkerumun di lopo. agaknya, struktur ini memang tidak populer untuk nongkrong masyarakat desa di sana. beda dari daerah-daerah timor lain [di kefa, misalnya] yang lebih hangat. di fatumnasi, tipe bangunan yang mudah dijumpai adalah rumah bulat [umekbubu] itu.

struktur lopo ini adalah tipikal bale yang populer di kawasan nusantara: hanya punya atap dan tiang-tiang penyangga. dan sama seperti geometri dari umekbubu, lopo berdenah lingkaran dan bisa diakses dari semua arah. karena bersifat lebih publik katimbang ume, maka atap alang-alang itu tidak turun hingga menyentuh tanah, seperti halnya yang terjadi pada ume. atap alang-alang untuk lopo dibuat dengan ketinggian orang dewasa.

lalu, di mana orang-orang bergerombol, berhimpun, saling bertemu? di rumah-rumah. oleh sebab itu, desa ini tidak bisa terlalu besar. berkelompok-kelompok mereka tinggal. bila akan berkumpul maka mereka berkumpul dari rumah ke rumah.

rumah bulat di batu tua

nama desa ini fatumnasi, yang menurut pak lambert oematan, bisa diindonesiakan sebagai batu tua. nama suatu desa di lereng bukit mutis, di timor. kadang kala,  nama fatumnasi bisa diartikan sebagai batu berjenggot, entah apa maksudnya. tapi di sana memang adanya batu melulu. dan di hutan lindung gunung mutis itu, pohon-pohon banyak yang batang dan rantingnya berjenggot. bersulur-sulur di sekujur batangnya.

saya ke sana, karena didorong ingin tahu lebih lanjut tentang rumah adat orang timor. orang-orang gunung yang menamakan dirinya sebagai atoni pah meto. orang-orang dari tanah kering, begitu bila diindonesiakan nama diri tadi.

rumah-rumah di fatumnasi umumnya terdiri  dari dua buah struktur bangunan. rumah bulat, yakni rumah induk, dan istanis, atau rumah depan. rumah bulat [umekbubu] adalah rumah asli mereka sebagai orang gunung. berdenah lingkaran dengan diameter sekitar 6 meter dan tinggi bangunan juga sekitar 6 meter, rumah ini memuat segenap kebutuhan tinggal dan menetap orang-orang timor.

sedangkan istanis adalah bangunan persegi panjang, berukuran sekitar 5×6 meter, dengan dinding dari pelepah dauh lontar yang disusun berderetan membentuk pola larik-larik vertikal. di sini mereka menerima tamu, dan juga membuat kamar untuk sehari-hari di musin panas. istanis bisa ada bisa tidak dan bila ada maka ia selalu diletakkan di depan atau di samping rumah bulat. ini pertanda bahwa struktur ini memang datang belakangan. dibuat belakangan.

dengan bentuk rumah bulat yang seperti itu maka bisa dimaklumi bila pengembangan suatu rumah adalah berarti penambahan struktur baru di halaman rumahnya. bentuk bulat itu sulit dikembangkan atau diperluas dalam dirinya.