Posts Tagged ‘wall’

BBC NEWS | Special Reports | Walls around the world

bagus sekali laporan BBC ini. dua dekade setelah tembok berlin diruntuhkan, justru sekarang makin banyak tembok-tembok penyekat dibuat di bagian lain dunia.
entah penyekat karena kebutuhan akan pembedaan agama, ras, pandangan politik… tapi yang jelas bahwa perbedaan itu lalu divisualisasikan dan bahkan dikonkretkan dalam bentuk dinding dan pagar yang memisahkan ruang.
dalam benak orang modern rupanya selalu hidup kebutuhan untuk memisah-misahkan dengan tegas. yang dengan teknologi yang semakin maju, kebutuhan itu diwujudkan dalam ruang.

Posted via web from lihatlah

dinding

lagu ciptaan the scorpion dibikin ketika dinding pemisah ruang di kota berlin selesai diruntuhkan. ketika elemen arsitektural pemisah itu tidak lagi berfungsi, karena kedua belah pihak yang semula terpisah olehnya, kini telah sepakat untuk menyatu.

seandainya kedua belah pihak itu tetap berkukuh pada perbedaan pendiriannya, maka dinding itu akan tetap dipertahankan berdiri di tempatnya. dinding mewakili pemisahan, mewakili perbedaan. adalah pembatas ruang yang definitif.

lagu “the wind of change” jadi semacam monumen karena menandai perubahan itu, dari terpisah menjadi saling merembes untuk menyatu, terembus oleh angin kencang perubahan.

lain halnya dengan pemisahan antara israel dan palestina. dua bangsa yang serumpun itu kini semakin menegaskan perbedaannya. paling tidak, demikianlah yang terungkap dari video yang memerlihatkan proses pembangunan dinding beton panjang yang meliuk-liuk memerangkap pergerakan orang agar hanya berada di tempatnya saja, tidak melebar, meluap ke mana-mana.

pembangunan dinding ini memerlihatkan kepercayaan bahwa dinding adalah sarana terpercaya untuk menyatakan pemisahan. bahwa itu tidak efektif lagi untuk mencegah peluru kendali lewat melampauinya, tidak jadi soal. karena yang didirikan adalah suatu simbol, yakni simbol pemisahan. dan mungkin juga simbol kebencian, seperti judul yang dipakai oleh video sepanjang 8 menit itu.

orang bersusah payah, dengan biaya luar biasa mahal, untuk mendirikan simbol. dan sepanjang sejarah, belum banyak yang mencoba untuk menafsir makna dinding sebagai pemisah ini.  yang dilakukan hanyalah memberi bentuk yang berbeda, tapi muatannya tetap dipertahankan, bahwa dinding adalah pemisah.

di jepang, ada penulis terkenal di paro abad XX –junichiro tanizaki– yang mengisahkan bahwa dinding rumah petani jepang itu diafan, yang memungkinkan hubungan luar dan dalam itu seperti hubungan osmosis yang saling meresap. beda dari dinding kastil para shogun mereka yang tebal dan berfungsi untuk bertahan dari serbuan musuh.

dinding di tepi barat, mau pun di kastil jepang memang dibuat dengan kepercayaan bahwa penguasaan ruang adalah perkara kekuasaan. juga di berlin, demikian pula benteng-benteng kota lama -termasuk yogyakarta- baik yang sudah runtuh maupun yang masih tegak, merupakan simbol kekuasaan itu.

ada yang masih utuh, ada pula yang sudah runtuh. ada yang utuh karena kekuasaannya sendiri memang masih bertahan, ada pula yang utuh karena dibikin utuh oleh aktor yang lain, kapitalisme industri pariwisata, misalnya.

dinding itu, runtuh atau utuh, masih saja menyimpan ide tentang pemisahan dan penguasaan. divide et impera? huh… embuh!