Posts Tagged ‘wedang uwuh’

uwuh amongraga

amongraga memang nama tokoh utama dalam serat centhini.
tapi, ini juga adalah nama minuman yang dikatakan khas imagiri [himagiri=gunung yang berselimut kabut, mungkin dulunya memang begitu dan bila demikian maka daerah ini tentunya berhawa dingin]. minuman ini disebut sebagai wedang amongraga, yang di imagiri lebih dikenal sebagai wedang uwuh, “minuman sampah”.

saya mengenalnya sepuluh tahu lalu, ketika pacaran ke kawasan makam raja-raja mataram itu [pacaran kok di makam…he..he.. begitulah, kami berdua bersepeda sendiri-sendiri, hari minggu siang berkeliling ke situs-situs sejarah sekitar kotagede, plered, imagiri, kerta hingga pernah ke prambanan segala]

di terminal imagiri, mungkin sekitar 100m dari makam raja-raja tadi, kami biasa beristirahat di situ. di tempat itu ada beberapa warung yang menjual nasi pecel dengan lauk peyek kacang, di mana kacangnya berdempetan ketat dalam piringan peyek yang diameternya lebih dari 10cm itu. [ini peyek lebar banget!]
di samping makanan itu, tersaji pula minuman yang disajikan dalam gelas bier, cukup besar, dan berisi rempah-rempah. inilah yang tenar dinamakan sekenanya oleh penggemarnya sebagai wedang uwuh.

saya tidak sanggup mengidentifikasi bahan-bahannya dengan akurat. tapi dari pengamatan mata telanjang, rasanya ada jahe gepuk di situ. ada serutan kayu secang, ada cengkih, ada daun salam, ada beberapa daun lagi yang tidak saya kenal, yang kesemuanya direndam dalam gelas kita tadi yang dituangi air mendidih dan dicemplungi gula batu. menghasilkan segelas minuman yang berwarna merah, karena serutan kayu secang tadi.

minuman ini menyegarkan, pedas, manis, dan rasanya melancarkan aliran darah, yang karenanya maka disebut sebagai wedang amongraga: minuman untuk merawat kesegaran badan. cocok untuk daerah dingin dan bagi yang membutuhkan kebugaran ekstra.

wedang jahe pasti sudah dikenal oleh banyak orang. tidak hanya oleh orang imagiri. wedang secang pun demikian, saya sudah mengenalnya di sala. gula batu, sebagai gula yang memang didisain untuk mencegah larut secara cepat sehingga memungkinkan orang untuk ngejog, atau menambahi air tanpa mengalami fluktuasi rasa manis, pun sudah dikenal luas di tempat lain. demikian pula dengan wedang cengkih pun sudah dikenal orang sebelumnya. jadi, secara asal-usul, wedang uwuh ini tidak terlalu original.

originalitas dari wedang uwuh ini mungkin terletak pada eklektiknya itu tadi, campur aduknya itu. segala yang baik dari masing-masing unsur [tidak peduli apakah yang satu mengurangi mutu unsur yang lainnya] dicampur sehingga menghasilkan sensasi yang kaya.

apakah ini mentalitas jawa: bahwa semakin lengkap semakin baik? rasanya begitu. karena, bukankah gejala yang sama terjadi juga dalam berbagai aspek budaya jawa? dalam bahasa dan busana, misalnya.

sejak sepuluh tahun lalu, wedang ini sudah disajikan dengan rumusan resep seperti itu. namun, beberapa minggu yang lalu ketika saya mengunjungi imagiri lagi, wedang ini sudah tersaji dalam kemasan plastik yang berisi semua bahan tadi, berikut segumpal gula batunya. dia bisa dibeli dan dibawa pulang. bisa dihadirkan di tempat lain, bisa dinikmati di rumah. tidak harus di imagiri.

ada label yang disisipkan di sana, terbaca sebagai WEDANG UWUH. dicantumkan juga nama pencipta pertamanya. ada alamatnya di imagiri, dan dicantumkan pula nomor teleponnya berikut tulisan “MENERIMA PESANAN”. selain label itu, disisipkan pula tatacara menyeduhnya.

wedang uwuh sudah menjadi komoditas. dia diklaim sebagai bagian dari identitas suatu daerah. bahkan, ada individu yang berani mengklaim sebagai penciptanya.

ini mengingatkan saya pada serat centhini yang diciptakan sebagai kumpulan dari berbagai bahan. campur aduk. ada pedoman membuat rumah, memelihara kuda, menetapkan hari pernikahan, menilai mutu suara burung, mengobati berbagai sakit, petunjuk bersetubuh agar menghasilkan turunan yang baik…dsb.
serat ini bersifat eksiklopedik dan eklektik atau campur aduk, berasal dari berbagai sumber yang kemudian diklaim sebagai sebuah serat dan diberi label sebagai karya susuhunan pakubuwana V.

serat ini disusun ketika kebudayaan jawa macet dan butuh arah baru. yang dilakukan para redakturnya adalah menghimpun semua khasanah pengetahuan yang ada waktu itu, untuk memungkinkan orang jawa memilih bagi perjalanan baru yang akan ditempuh.

apakah wedang uwuh sebagai suatu komposisi yang cukup lengkap itu masih membutuhkan komposisi baru? ditambahi sesuatu yang lain lagi? atau sudah cukup begini?

bila sudah cukup begini, maka kita tinggal mengemasnya. mencegahnya untuk tumbuh dan berkembang. dia bisa dibungkus, bisa dilabeli, bisa dibawa ke tempat lain [ke negeri malingsia, misalnya] meninggalkan locus di mana dia diramu dan dirumuskan resepnya.

saya kok lebih memilih membiarkannya hidup dan berkembang dan terbuka untuk penambahan atau pengurangan rasa. wedang uwuh biarlah terus tumbuh…