Posts Tagged ‘yogyakarta’

foto dan privacy

fotografer yang sedang dipamerkan lagi karya-karyanya di BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA, adalah seorang pribumi rendahan [terbukti dari nama baptis yang menggunakan nama yahudi :CEPHAS, bukan nama latinnya: PETRUS] dengan kamera di tangan bisa melihat isi tempat tinggal junjungannya.
kamera telah mengubah status sosialnya!

kamera membuat tembok2 tinggi kraton yang melindungi privacy itu serasa gak berarti, karena begitu foto dicetak dan diterbitkan di majalah atau di pameran, maka semua orang jadi tahu isi ruang yang terlindungi kokoh oleh benteng tebal itu, tanpa harus merubuhkannya.

‎[memamerkan ke publik suatu benda yang dilindungi privacy akan membuat juru kunci kehilangan arti. demikian pula karcis gak dibutuhkan lagi.]

sudah diatur susah diatur

jalanan di yogya, sepertinya juga di kota lain di indonesia, akhir-akhir ini dikuasai sepeda motor.
itu tidak masalah.
yang menjadi masalah adalah kendaraan satu ini memberi keleluasaan yang besar untuk memanfaatkan ruang pergerakan yang minimal. dalam celah-celah antar kendaraan, sepeda motor mampu bergerak cepat menyusupinya.
karenanya, pola pergerakan sepeda motor di jalanan padat kota yogya, susah diduga.
kadang berjalan kencang di sebelah kiri kita, kadang di kanan kita.
ini mencemaskan kita yang mengendarai mobil.
pun bagi kita yang bersepeda. sepeda motor bisa lari kencang berhubung volumenya lebih ramping dari mobil, tapi kecepatannya lebih kencang dari sepeda. pelanggaran aturan lalu lintas, kebanyakan dilakukan oleh pengendara sepeda motor, berhubung dengan kelebihan-kelebihannya dibandingkan mobil maupun sepeda.

saya dulu mengira, kenekadan berkendaraan ini karena jalanan kita tidak ada aturan. saya mengira bahwa jalanan adalah ruang kontestasi yang mirip hutan rimba dengan hukumnya.
tapi,
saya dua hari ini, ketika menyusuri kembali jalanan yang pernah saya kenal dan tinggalkan sekian lama ini, anggapan saya tadi tidak sepenuhnya benar. jalanan di yogya SUDAH ADA ATURANNYA. sudah ada semboyan, amar, peringatan, larangan dalam berlalu lintas di jalan. DLLAJR dan kepolisian sudah menyediakan aturan-aturan yang perlu dalam berkendara.

berarti dengan demikian, keruwetan dan keadaan kacau balau di jalan itu lebih karena disebabkan oleh perilaku pengguna jalan itu sendiri. alias, kita semua pengguna jalan itu.
perilaku kita di jalanan benar-benar gila!
di jalanan, kita berubah serta-merta dari manusia menjadi sekadar animal belaka.
liar, mengerikan!

susah benar mengatur orang, di tempat kita.
susah sekali meminta masyarakat untuk tunduk pada aturan.

yogya, tempat yang baik

daerah ini dihuni oleh orang dari berbagai penjuru tanah air indonesia.
mereka tumbuh di situ dan matang di situ.
juga banyak yang kemudian bermukim di situ.
ikut mewarnai dan memperindah yogya.

saya pikir, inilah contoh dari keindonesiaan yang memberi kemungkinan tumbuh dalam keberagaman.

tadi pagi, seorang rekan menulis sanjungan pada yogyakarta. dia teman lama dari jawa timur yang sekarang sukses jadi pengusaha perkebunan di sumatra.

Hari ini saya ke Yogya, negeri yg menarik untuk dijadikan pemikiran, tidak kaya tapi sejahtera, usia harapan hidup tertinggi, desa2nya tertata apik, kehidupan ekonomi mikronya berjalan dng baik, denga APBD yg kecil bisa membangun jln yg bagus sampai ke gunung2, suatu bukti bahwa kalau dana tdk dikorupsi bisa untuk mensejahterakan rakyat, Bravo Yogya

Ketika negeri ini baru merdeka kas negara kosong Bung Hatta pinjam SHB IX 5 Jt Gulden yg waktu teramat sangat banyak, ketika sdh merdeka Bung Hatta tanya : Apa Hutang perlu dibayar, Sultan tdk menjawab. Bukan besarnya uang tapi emphaty yg tdk terbeli

apa salahnya yogya menjual romantisme untuk bertahan hidup? apa salahnya yogyakarta diperintah oleh mekanisme kerajaan, bila itu mendatangkan kebaikan-kebaikan?

[untuk lirik lagu rap di atas, tersedia di blog pak stevanus handoko]

jalan sala yogya

di yogya sini sering orang punya hajat menutup jalan -entah separo, entah sepenuhnya- di sekitar rumahnya. beda dari perilaku orang sala. di sala, orang lebih banyak menyelenggarakan hajatan di gedung-gedung pertemuan yang disewa katimbang mengokupasi jalan. ada lebih dari 10 gedung pertemuan di sala, sedangkan di yogya tidak lebih darinya. itu yang sanggup saya ingat.

rama kuntara pernah berujar bahwa orang sala pantang makan di pinggir jalan, sedangkan jalan di yogya adalah tempat berkembangnya warung lesehan. perbedaan penggunaan jalan tadi apakah bisa dianggap sebagai indikator bahwa orang yogya lebih guyup katimbang orang sala sehingga ruang panjang penghubung antar rumah itu bisa digunakan bersama-sama? entahlah.
yang jelas, jalan di sala lebih lebar dibanding jalanan di yogya yg terasa lebih berjubel. karena itu, mungkin, hajatan di yogya bisa berlangsung dengan sebentar meminjam jalan.

sajian hajatan gaya sala dikenal dng rumus USDEK: unjukan, snack, dhahar, es, kondur. urutan ini tidak bisa dilangsungkan sebentar. bila rumusan itu belum tergenapi berarti hajatan belum selesai, dan tamu sungkan utk pulang lebih dulu. dan ini bisa berlangsung lebih dari satu jam.

sekarang ini, sudah banyak orang yogya menyelenggarakan hajatan di gedung sewa, meski tetap dengan ‘standing party’, hal baru yang oleh generasi ibu saya ditentang habis. mungkin jalanan yogya makin poluted sehingga mereka memindah acara itu ke gedung sewa. atau mungkin juga ada anggapan bahwa yang sanggup menyewa gedung adalah yang lebih berada? saya juga tidak tahu. yang jelas di sala, sampai sekarang tetap jarang hajatan diselenggarakan dengan mengokupasi jalan. tidak juga dengan ‘standing party’.

sebagai orang yang lahir dan besar di sala tapi tinggal di yogya, saya menikmati perbedaan pemaknaan jalan ini, khususnya penggunaan jalan untuk dipakai hajatan. momen ketika kehormatan keluarga ditampilkan ke publik.

pisowanan agung

orang yogya amat emosional bila penafsiran mereka mengenai ‘keistimewaan DIY’ itu ditandingi dengan penafsiran yang lain. terlebih lagi dengan ucapan-ucapan presiden republik indonesia sekarang yang dikalimatkan seperti ini “masak iya ada jabatan gubernur seumur hidup” maka, itu bener-benar dianggap nylekit buat kebanyakan orang yogya. orang awam, orang kebanyakan.

penjelasan yang berujung pada dipisahkannya institusi kraton yogyakarta dari jabatan gubernur akan ditanggapi dengan segenap pikiran dan perasaan, emosional. terlebih lagi pemerintah republik indonesia sekarang bener-bener tidak berwibawa, seperti jadi bulan-bulanan. baik oleh lawan politiknya mau pun oleh kekuatan negara dan bangsa asing di sekitar kita. 

pengakhiran masa jabata gubernur DIY oleh sultan hamengku buwana X sekarang bila disertai dengan penafsiran baru atas keistimewaan daerah ini sulit diterima orang kebanyakan. mereka masih percaya bahwa kehidupan yang tenang di yogya ini -sementar daerah lain bergolak- ada hubungannya dengan wibawa kraton yang memiliki kekuasaan. bila itu dilucuti, dan diserahkan pada mekanisme yang berlangsung di sebagian besar provinsi di republik ini, maka ada kekhawatiran daerah ini hanyalah jadi kepanjangan tangan pusat yang sampai saat ini tidak punya wibawa sama sekali.

saya menerima undangan untuk acara PISOWANAN AGUNG, nanti tanggal 28 oktober 2008. pilihan kata yang dipakai saja sudah memerlihatkan emosi yang mendalam. belum lagi, nanti akan berhimpun ribuan orang di alun-alun… bakal jadi peristiwa yang emosional pula.

tentu saja, saya ingin ambil bagian di situ. ingin jadi saksi peristiwa penting ini. bila anda tertarik ikut, apa pun motivasi anda, silakan datang nanti:

hari, tanggal  :  Selasa, 28 Oktober 2008
tempat           :  di Alun-Alun Utara Karaton Yogyakarta