Konsultasi SKRIPSI/KP SEMESTER GASAL 2016/2017

Mahasiswa bimbingan Skripsi/KP diwajibkan untuk mengikuti dan mempelajari panduan penulisan Skripsi atau panduan laporan Kerja Praktik Program studi Sistem Informasi. Konsultasi memperhatikan jadwal dan catatan berikut :

JADWAL KONSULTAS GASAL 2016/2017


Senin 09.00-11.00
Rabu 14.00 -16.00
Kamis 14.00-16.00


CATATAN


Kamis 22 September 2016 : Konsultasi jam 09.00-11.00
Senin 29 Agustus 2016 : Konsultasi jam 14.00-16.00


Saran urutan konsultasi KP dan Skripsi


1. Proposal (Mahasiswa menjelaskan penelitian/projeknya yang dikerjakan - masalah, cara penyelesaian dan tantangan )
2. Bab 1
3. Bab 2
4. Desain sistem : Rancangan aliran data dan proses (DFD, FLOWCHART, USE CASE DLL), DATABASE, ANTAR MUKA
5. Demo Program
6. Bab 3
7. Demo program, Pengujian dan analisis
8. Bab 4
9. Bab 5
Hindari kesalahan penulisan yang sudah dibahas di panduan.

Format Laporan KP SI mengikuti Panduan KP SI




26 Aug, 2016 | othie |

PEMODELAN LINKED OPEN DATA UNTUK MUSEUM-MUSEUM DI KOTA YOGYAKARTA

Budi Susanto, S.Kom, MT, Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS
Penelitian BAPPEDA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA 2015

ABSTRAK
Di wilayah Pemerintah Kota Yogyakarta, tercatat terdapat 15 museum dengan berbagai jenis dan koleksi. Dari hasil survey yang telah dilaksanakan, 87% responden membutuhkan adanya layanan informasi terkait dengan keberadaan dan profil setiap museum tersebut.Berkaitan dengan kebutuhan akan tersedianya katalog koleksi museum, 73% menyatakan sangat dan cenderung setuju untuk diadakan. Kebutuhan tersebut mencerminkan tersedianya layanan informasi untuk koleksi-koleksi museum di Pemkot Yogyakarta. Di sisi lain, dalam rangka untuk menumbuhkan minat dan perhatian terhadap keberadaan museum dan koleksinya, selain menyelenggarakan berbagai aktifitas di museum, dipandang perlu juga untuk dikembangkan layanan informasi terbuka yang dapat digunakan berbagai pihak untuk mengembangan aplikasi-aplikasi lokal terkait koleksi museum. Untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut, pemodelan informasi dengan pendekatan arsitektur linked open data dinilai perlu diterapkan. Penelitian ini menghasilkan sebuah model informasi berbasis semantic web untuk merepresentasikan setiap objek koleksi museum. Model informasi yang telah dikembangkan juga menggunakan controlled vocabulary dari Dublin Core, Tesaurus UNESCO, FoaF, dan model Wgs84 untuk posisi. Dalam penelitian ini juga direkomendasikan rancangan antarmuka, arsitektur penerapannya, serta rekomendasi tahapan penerapannya bagi Pemkot Yogyakarta.

1.1. Latar Belakang
Museum sebagai sebuah wadah yang mengarsip dan memelihara objek-objek penting, seharusnya menjadi salah satu pusat penyediaan informasi yang penting bagi masyarakat.Keberadaan dari museum-museum tersebut dirasakan masih belum menjadi perhatian dari masyarakat. Penyebabnya bisa ditelaah dari berbagai sudut pandang, antara lain: keterbatasan akses informasi tentang objek apa saja yang tersimpan di dalam tiap museum, serta masih rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap objek-objek bersejarah.
Berdasar Statistik Pariwisata Kota Yogyakarta 2013 (Badan Pusat Statistik, 2014, p. 10), jumlah pengunjung museum untuk 10 museum yaitu museum Puro Pakualaman, Perjuangan, Sasana Wiratama, Vredeburg, Sono Budoyo, Biologi, Dharma Wiratama, Sulaman, Batik, dan Sasmita Loka selama tahun 2013 tercatat 3.368.685 orang.Dengan kondisi ini, masih perlu untuk dilakukan beberapa program untuk lebih dapat memperkenalkan museum secara lebih luas dan terbuka.
Di sisi lain, pertumbuhan infrastruktur koneksi jaringan Internet di Indonesia telah memungkinkan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk dapat mengakses informasi dan berjejaring dimana dan kapan saja. Berdasar informasi yang dikeluarkan oleh KemenKomInfo RI (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, 2013), tercatat bahwa pada tahun 2013 tercatat pengguna Internet di Indonesia mencapai 63 juta, walaupun 95% nya digunakan untuk mengakses layanan jejaring sosial.
Berkaitan dengan upaya peningkatan akses informasi terhadap museum-museum di Yogyakarta secara khusus, keberadaan tingginya jumlah pengguna Internet tersebut menjadi tantangan tersendiri.Dengan keanekaragaman sesumber objek karya yang terpelihara di masing-masing museum tersebut, sangat perlu untuk ditelaah dan dikembangkan suatu sistem berbasis teknologi informasi yang dapat menyediakan akses informasi kepada masyarakat luas. Di sisi lain kondisi yang masih perlu untuk dipertimbangkan dalam penyediaan layanan informasi museum terpadu adalah belum semua museum memiliki ketersediaan infrastruktur teknologi informasi yang mendukung keterhubungan antar museum melalui Internet.
Saat ini beberapa museum telah memiliki situs web yang menyajikan informasi tentang berbagai hal terkait dengan museum tersebut, antara lain: waktu kunjung, alamat, perihal museum, informasi objek apa saja yang ada di museum tersebut. Situs web yang dikembangkan dan dipelihara oleh masing-masing museum seringkali tidak tersinkronisasi dengan semua museum dan bahkan dinas-dinas yang terkait di pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu ketersediaan informasi tentang museum masih belum tersedia secara baik untuk dapat digunakan oleh masyarakat. Dengan demikian perlu untuk dirancang dan dikaji terkait dengan pembangunan infrastruktur teknologi informasi serta kebijakan-kebijakan yang dapat membantu masyarakat museum, masyarakat luas, dan juga pemerintah Kota Yogyakarta.
Untuk dapat membuka akses informasi kepada masyarakat melalui jaringan Internet diperlukan adanya tinjauan standar terbuka yang dapat diterapkan untuk tetap menjaga bahwa keterbukaan informasi tersebut tidak melanggar hak cipta serta keamanannya. Salah satu spesifikasi yang dapat diterapkan adalah dengan menerapkan spesifikasi Semantic Web yang distandarisasi oleh W3C (Word Wide Web Consortium). Selain menyediakan spesifikasi infrastruktur keterbukaan akses data, Semantic Web juga dapat memberikan bentuk representasi pengetahuan dari setiap objek yang tersimpan dalam masing-masing museum. Dengan memodelkan representasi pengetahuan dari objek-objek museum tersebut, diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih representatif bagi masyarakat. Selain itu, dengan Semantic Web akan membuka pengembang-pengembang aplikasi untuk mengoptimalkan data-data katalog objek-objek museum agar dapat lebih disebarkan dalam berbagai bentuk.
Penyediaan layanan data terbuka (open data) untuk museum dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk layanan eGovernment yang dilakukan oleh Pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Yogyakarta. Layanan tersebut tentunya tidak terlepas dari usaha digitalisasi dari berbagai objek karya yang tersimpan di museum. Usaha digitalisasi merupakan sebuah langkah nyata yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dan museum dalam rangka untuk membuka kemungkinan-kemungkinan eksploitasi yang bertujuan baik di kemudian hari. Oleh karena bentuk digital dari objek-objek tersebut juga harus dilindungi oleh hak kepemilikan intelektual, maka perlu dipikirkan bentuk penerapan open data untuk katalog dari objek-objek warisan tersebut agar masyarakat luas tetap dapat mengakses informasi dasarnya.
Museum sudah saatnya membuka akses terhadap informasi katalog yang dimilikinya secara lebih terbuka dengan tujuan agar masyarakat luas dapat dengan mudah mendapatkan informasi awal dari basis data katalog tersebut. Dalam hal ini sangatlah dipandang perlu untuk menyediakan layanan terpadu yang mengkoleksi dan membuka akses secara terbatas terhadap data-data katalog objek-objek di masing-masing museum. Dengan keterbukaan katalog dari objek-objek yang tersimpan di museum-museum di daerah Kota Yogyakarta, akan dapat semakin menarik minat masyarakat untuk mengunjungi museum secara fisik. Penerapan spesifikasi linked open data berbasis pada semantic web menjadi salah satu kunci untuk pengembangan sistem tersebut.

1.2. Rumusan Masalah
Pada penelitian ini akan dilakukan kajian terhadap penggunaan standar Semantic WebOWL (Web Ontology Language)sebagai bentuk representasi pengetahuan dari data sesumber koleksi yang dimiliki museum-museum. Dengan kajian tersebut penelitian ini akan menjawab pertanyaan tentang model representasi pengetahuan seperti apa yang dapat digunakan untuk merepresentasikan informasi dari objek-objek yang tersimpan di museum agar nantinya dapat digunakan dalam pembangunan sistem katalog yang bersifat terbuka.
Oleh karena pada saatnya nanti penerapan linked open data(LOD) harus juga melibatkan berbagai stakeholder, khususnya museum-museum di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta, penelitian ini juga akan merumuskan tentang bagaimanabentuk infrastruktur teknologi informasi serta kebijakan-kebijakan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah kota Yogyakarta dalam merancang program penerapan teknologi informasi di lingkungannya, secara khusus berkaitan dengan ketersediaan informasi tentang museum di Kota Yogyakarta. Rancangan dan usulan kebijakan tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan layanan informasi terpadu terkait data-data katalog yang dimiliki oleh museum-museum.

Akses Fulltext


20 May, 2016 | othie |

Knowledge Management for The Library Collection Development

Knowlege Management for The Library Collection Development
Umi Proboyekti

in Proceeding of the Conference :The Academic Librarian: Dinosaur or Phoenix: Die or Fly in Library Change Management - University Library System, Chinese University of Hong Kong

Abstract
There are differences of knowledge base between program department and academic library in developing library collection. Program department bases their collection on the curricullum details and subjects' material whereas the librarian use subjects description as the most detail information to decide what collection to but or get. This difference leads to a wide range of library collection or to budget inefficiency when money and space are issues. However, the knowledge of both parties has its own values that support decision on what collections to collect.
When both parties combine their knowledge in a knowledge repository they build a new knowledge and an agreement to develop the library collection. The repository is in form of several databases where relations among them produce information transformed to knowledge. Useing the relations, business intelligence techniques finds hidden knowledge that show the characteristics of collection to collect, and produce knowledge for both parties to complete each other in developing the library collection according to their role in academic process.
In the repository, the library knowledge supports on how patron use the collections in their academic process while the program department knowledge supports on what collection fulfill the subjects material they offer. This combination of knowlede becomes a base for developing the library collection where budget, space and communication are limited.

Akses fulltext

11 May, 2016 | othie |

PEMODELAN DATA BERBASIS SEMANTIC WEB UNTUK KATALOG PERPUSTAKAAN

Budi Susanto, S.Kom, MT ; Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS
Penelitian LPPM -2014

Dengan semakin besarnya ukuran katalog yang dimiliki oleh suatu perpustakaan, maka sangat tidak mungkin jika pengelolaannya masih menggunakan metadata yang sulit untuk diolah oleh mesin. Beberapa pemformatan kembali terhadap metadata agar mendukung kolaborasi antar sistem katalog, dinilai masih menimbulkan masalah redudansi dan ketidakkonsistensian dalam penggunaan metadata itu sendiri. Selain itu untuk dapat menyediakan layanan katalog yang dapat menjangkau pemakai yang lebih luas, maka perlu adanya transformasi penggunaan format metadata yang lebih terbuka dan dapat dimengerti oleh mesin serta manusia, sekaligus berorientasi pada data bukan hanya dokumen. Pendekatan dengan menerapkan prinsip dan spesifikasi Semantic Web dinyakini dapat memberikan jalan untuk pemecahan masalah tersebut.
Penerapan Semantic Web pada layanan katalog perpustakaan pada akhirnya akan dapat membentuk suatu linked data dari berbagai pihak yang juga turut membangun keterbukaan data. Untuk itulah penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan dalam rangka untuk melakukan studi
dan pengembangan prototype terhadap penerapan Semantic Web di perpustakan, secara khusus di perpustakaan UKDW. Diharapkan dengan model penerapan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat menjadi sebuah model pembangunan layanan katalog berbasis semantic web bagi
perpustakaan-perpustakaan lainnya.


Akses Fulltext

11 May, 2016 | othie |

KAJIAN KATEGORI OBJEK BUDAYA YOGYAKARTA UNTUK JOGJASIANA

Budi Susanto S.Kom, MT; Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS
PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN BIDANG PERPUSTAKAAN - BPAD YOGYAKARTA 2014

ABSTRAK
Berbagai warisan budaya Yogyakarta merupakan koleksi unik yang menjadi target untuk dikoleksi dan dipromosikan kepada masyarakat. Didasari pada program serah-simpan karya rekam karya cetak tentang Yogyakarta, didang Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan BPAD DIY mendayagunakan dan meluaskan koleksi konten lokal Yogyakarta yang disebut Yogyasiana. Yogyasiana adalah semua tentang Yogyakarta. Warisan budaya Yogyakarta adalah bagian dari Yogyasiana. Warisan budaya dapat berupa buku, karya sastra, resep masakan, hasil kerajinan, tokoh, bangunan peninggalan sejarah, lagu daerah, lagu kontemporer, tari dan lukisan. Objek-objek warisan budaya yang demikian beragam, dalam rangka menyajikannya dengan bantuan teknologi informasi membutuhkan pengelompokan objek budaya. Pengelompokan objek budaya ini akan mendukung penyimpanan, penemuan kembali dan penyajian informasi.
Kajian ini menghasilkan kategori-kategori yang didasari dari tesaurus SKOS UNESCO secara khusus pada subjek domain kebudayaan atau culture. Kategori yang berstruktur dua tingkat : kategori dan sub kategori juga mengacu pada beberapa contoh dari kumpulan objek budaya lain seperti Europeana, Portal Budaya SAARCH, dan Digital Public Library of America. Beberapa kategori berasal dari subjek domain lain di SKOS UNECO untuk dapat mengkategorikan objek-objek budaya yang ditemukan lewat pengamatan dan studi pustaka.
Proses penyusunan kategori menghasilkan beberapa rekomendasi program untuk mewujudkan pendayagunaan objek-objek budaya Yogyakarta dengan dukungan teknologi informasi, secara khusus semantic web.


1.1. Latar Belakang
Bidang Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan BPAD DIY adalah bidang yang bertanggung jawab untuk melakukan, salah satunya, deposit karya-karya Yogyakarta. Karya oleh orang Yogyakarta atau tentang Yogyakarta. Dalam hal ini terutama semua yang berkaitan dengan Yogyakarta, baik hasil budaya maupun karya lain yang dilahirkan di Yogyakarta atau tentang Yogyakarta. Semua tentang Yogyakarta adalah pengetahuan/kearifan lokal Yogyakarta yang patut untuk dikenal dan disebarluaskan, kepada masyarakat Yogyakarta dan dunia. Penggalangan karya tentang Yogyakarta sudah menjadi program rutin yang dilakukan oleh Sub Bidang Deposit dan Pengolahan Bahan Pustaka. Penggalanan karya tentang Yogyakarta didasari oleh Undang-undang nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Karya-karya tentang Yogyakarta kemudian dinamai Yogyasiana.
Program Yogyasiana adalah program yang menyajikan koleksi tentang Yogyakarta dalam berbagai bentuk dan format seperti misalnya buku, karya sastra, resep masakan, hasil kerajinan, tokoh, laporan potensi daerah, bangunan peninggalan sejarah, lagu daerah, lagu kontemporer, tari dan lukisan. Penyajian yang memungkinkan menyebarluaskan kepada masyarakat umum dan Yogyakarta adalah dengan dukungan teknologi informasi pada medium Internet. Menyajikan objek yang beragam dalam format digital memberi tantangan sendiri karena mesin perlu dibantu untuk dapat membantu pengguna untuk mendapatkan apa yang dicari dan apa yang perlu disajikan. Objek budaya yang didigitalkan perlu untuk dilengkapi dengan deskripsi yang sesuai dengan standar yang diakui internasional. Standar ini akan memudahkan mesin mengenali dan selain itu memungkinkan penyebaran lebih luas karena pihak lain dapat membantu penyebaran karena standar yang digunakan dikenali.
Dalam rangka menuju Yogyasiana yang koleksinya siap diakses dimanapun juga dan tersebar dengan mudah, langkah pertama adalah melakukan kajian terhadap kategori objek budaya yang akan menjadi koleksi Yogyasiana.
1.2. Rumusan Masalah
Fokus dari kajian ini adalah merekomendasikan kategori-kategori untuk projek Yogyasiana.
1.3. Batasan Masalah
a) Jenis objek budaya didasari pada studi pustaka dan pengamatan.
b) Dalam menentukan objek budaya Yogyakarta, tidak dipertimbangkan secara khusus format fisik dari karya tersebut : tercetak, atau digital. Kategori yang akan dihasilkan mengacu pada kategori informasi objeknya.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari kajian ini adalah menghasilkan serangkaian kategori sebagai rekomendasi untuk projek Yogyasiana.

1.5. Metode Kajian
Pengamatan Langsung
Pengamatan dilakukan pada Europeana, Digital Public Library of America (DPLA), South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) Culture Centre, TROVE National Library of Australia, Culture Collage, Batavia Digital dalam menyusun kategori. Pengamatan pada kategori dan sub kategori serta objek-objek dalam kategori. Sumber informasi dan cara penyajian informasi tiap objek dan kategori juga menjadi fokus pengamatan.
Pengamatan pada Simple Knowledge Organization System (SKOS) UNESCO fokus pada hirarki tesaurus pada CULTURE untuk mendapatkan controlled vocabulary. Dengan memperhatikan temuan dari hasil studi pustaka tentang Yogyakarta, entri pada tesaurus dipilih untuk mewakili kategori objek budaya.

Akses Penuh Fulltext

09 May, 2016 | othie |

Identifikasi Kriteria Evaluasi Sumber Informasi untuk Kebutuhan Akademik Mahasiswa Studi kasus : Fakultas Teknologi Informasi UKDW

Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS ; Dhian Agustin Widyaningrum, S.Hum
Laporan Penelitian - Fakultas Teknologi Informasi UKDW 2015

ABSTRAK
Evaluasi informasi dari Internet dilakukan untuk mendapatkan informasi yang dapat diandalkan sehingga informasi yang disusun dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa menggunakan informasi dari Internet dalam menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Dalam proses mencari dan menentukan informasi yang akan digunakan, para mahasiswa mengevaluasi dengan caranya. Dalam cara evaluasi, ada kriteria yang digunakan untuk menetapkan informasi yang dipercaya. Penelitianmengidentifikasi kriteria-kriteria yang digunakan oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW. Melalui wawancara dan praktik evaluasi sumber informasi dari Internet yang dilakukan responden, didapatkan kriteria yang digunakan.Relevansi informasi dengan kebutuhan untuk tugas akademik adalah kriteria utama. Penulis dan penerbit kurang mendapat perhatian. Dalam pencarian, atribut judul, URL dan deskripsi yang disajikan mesin pencari digunakan untukmenentukan informasi yang akan dievaluasi.

1.1. Latar Belakang
Di era digital sekarang ini, informasi disajikan dalam berbagai bentuk dan diperoleh dari berbagai sumber, baik cetak maupun secara elektronik. Salah satu sumber informasi elektronik ialah Internet. Sumber informasi dari Internet juga menjadi salah satu sumber yang digunakan mahasiswa untuk memenuhi berbagai kebutuhan informasi termasuk kebutuhan akademik. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, murah dan beragam, membuat Internet menjadi pilihan sebagai sumber informasi.
Informasi dari Internet dapat berasal dari manapun dan siapapun. Hal ini tentu membuat informasi mempunyai penulis, bentuk, format, bahasa, serta latar belakang yang berbeda-beda. Internet menyediakan ruang gerak yang lebih bagi setiap orang untuk menyajikan dan menyebarluaskan informasi sehingga terjadi informasi yang jumlahnya sangat besar. Karena hal tersebut, harus ada pertimbangan yang lebih dalam memilih sumber informasi dari Internet.
Pertimbangan yang digunakan berbeda dari pertimbangan ketika memilih buku di perpustakaan melalui katalog perpustakaan. Perpustakaan menyediakan sumber informasi yang sudah melalui tahap evaluasi dan diterbitkan oleh lembaga penerbit, sehingga pemilihan lebih pada relevansi antara informasi dan kebutuhan informasi. Informasi dari sumber internet belum melalui tahap evaluasi seperti informasi yang disajikan di perpustakaan. Dengan demikian, pertimbangan relevansi antara informasi dan kebutuhan informasi saja tidak cukup untuk mendapat informasi yang dapat diandalkan dari sumber informasi dari Internet.
Kebutuhan informasi akademik membutuhkan informasi yang dapat diandalkan dan digunakan sesuai dengan etika akademik. Plagiarisme menjadi salah satu masalah etika akademik dan hukum yang berpotensi terjadi karena banyak dan mudahnya informasi tersaji di Internet. Karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan identifikasi terhadap kriteria yang digunakan oleh mahasiswa ketika mengevaluasi informasi dari sumber internet. Kriteria-kriteria yang diperoleh dari mahasiswa akan memberikan gambaran profil kemampuan mahasiswa dalam mengevaluasi sumber informasi dari Internet. Profil tersebut akan menjadi materi untuk memberikan rekomendasi materi kemampuan dasar bagi mahasiswa terkait penggunaan sumber informasi dari Internet.


1.2. Rumusan Masalah
Kriteria-kriteria standar untuk evaluasi sumber informasi dari Internet adalah penulis, penerbit, domain, relevansi waktu dan relevansi isi. Namun demikian, belum diketahui kriteria yang digunakan mahasiswa ketika melakukan evaluasi terhadap sumber informasi yang berasal dari Internet untuk mendukung tugas akademik.

1.3. Batasan Masalah
Data penelitian berasal dari responden dan bersifat kualitatif. Responden penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, program studi Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Total mahasiswa FTI yang registrasi pada Semester Genap 2014/2015 adalah 966 mahasiswa dari 673 mahasiswa TI dan 293 mahasiswa SI. Responden berjumlah77 mahasiswa FTI dengan rincian 19 mahasiswa dari SI dan 58 mahasiswa TI.
Kriteria-kriteria yang menjadi rujukan diperoleh dari hasil analisis standar evaluasi sumber informasi dari SCONUL(SCONUL Working Group on Information Literacy, 2011), University of Edinburgh(The University of Edinburgh, 2015), University of California Santa Cruz(University of California Santa Cruz, 2015), 7 Langkah Knowledge Management (Lien, Gunawan, Aruan, Kusuma, & Adriyanto, 2014)dan Project Information Literacy University of Washington(Head & Eisenberg, 2010). Kriteria-kriteria standar yang menjadi rujukan adalah Penulis, Penerbit, Domain dan Relevansi.
Penulis adalah pihak yang menuliskan informasi dan bertanggung jawab terhadap isi. Individu, sekelompok individu, atau organisasi dapat bertindak sebagai penulis. Informasi yang ditulis dipublikasikan di Internet oleh pihak penerbit. Penerbit pun dapat berupa individu, atau organisasi. Penerbit informasi di Internet juga terkait dengan domain. Jenis domain menggambarkan penerbitnya dan mendukung penulisnya. Domain pemerintah seperti .gov atau variasinya menjelaskan bahwa penerbit dan penulis berelasi dengan organisasi milih pemerintah. Informasi yang disajikan pun dikaitkan dengan domain. Informasi yang tersaji dapat dianggap sebagai informasi yang relevan atau tidak relevan oleh penggunanya. Relevansi waktu terkait keterbaharuan informasi atau kekinian dari informasi.
Penelitian fokus pada kebutuhan informasi akademik untuk tugas karya tulis ilmiah dan tugas pemrograman. Dua tugas akademik ini berlaku untuk di kedua program studi dan dialami oleh semua mahasiswa di kedua program studi.


1.4. Tujuan Penelitian
Menghasilkan profil kemampuan evaluasi informasi mahasiswa sebagai dasar rekomendasi materi literasi informasi dasar dan kemampuan dasar bagi mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi guna memenuhi kebutuhan akademiknya. Rekomendasi ditujukan kepada Perpustakaan dan Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Duta Wacana.

Akses penuh Fulltext

09 May, 2016 | othie |

© 2007 yoursite.com | Designed by DesignsByDarren
Ported to Nucleus CMS: Suvoroff